99 Hari Mencari Jodoh

16 01 2013

GambarPernah nonton film “30 hari mencari cinta”? Kisah tiga cewek (Keke, Gwen dan Olin) yang sedang berjuang mencari cinta mereka. Lantas, kenapa mesti 30 hari? Mungkin karena 30 hari bukan waktu yang singkat, bagi ketiga perempuan itu untuk menemukan pasangan yang dianggap cocok. Toh, akhirnya mereka semua tetap tidak berhasil menemukan pria idaman itu. Cowok yang selama ini nempel dengan mereka, tidak memenuhi criteria jujur, setia, bersih, kaya, menarik dan normal.

Adakah laki-laki yang memenuhi semua criteria itu? Mungkin. Tapi, toh tetap aja laki-laki sering dicap sebagai buaya yang hidup di darat. Suka berbohong, ingkar janji, obral cinta serta tukang tipu, adalah bentuk perilaku dominan laki-laki dewasa ini, …. katanya!!!
Baca entri selengkapnya »





Refleksi Pemilukada Sulsel Part 1

14 03 2012

GambarBaliho, Duet dan Parpol

Ketika hendak menuju kota Maros, saya berhenti sejenak tepat di simpang lima, jalan masuk Tol Reformasi-Bandara-Mandai dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Pandangan saya langsung tertuju pada baliho besar yang terpampang di simpang lima tersebut. Gambar dua tokoh politisi senior Sulsel, yang sering menghiasi pemberitaan media-media lokal akhir-akhir ini, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Azis Kahar Muzakkar (AKM).

Tak tanggung-tanggung, baliho dengan ukuran besar dipasang kembar, di sisi kiri dan kanan jalan. Seolah hendak menunjukkan kepada masyarakat bahwa duet pasangan ini tak main-main untuk bertarung dengan Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel, dalam perebutan kursi pemerintahan Sulawesi Selatan ke depan.  

Aco dan Azis Kahar, sapaan akrab keduanya, memang pasangan duet Balon (bakal calon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel 2013-2017. Meski KPUD Sulsel belum membuka secara resmi pendaftaran calon, tapi pasangan ini telah mendeklarasikan lebih awal kesiapan mereka bersaing dalam pemilukada Sulsel 2013. Baca entri selengkapnya »





Seks Berkedok Agama

20 02 2012

Masih hangat di benak kita peristiwa beberapa bulan yang lalu, sempat menggegerkan dunia, perbuatan asusila yang dilakukan oleh beberapa Pastor dan Pendeta di berbagai belahan Eropa dan Amerika Serikat. Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak melibatkan sejumlah Pastor dan Pendeta, yang bersembunyi di balik tembok suci Gereja. Kontan, tindakan asusila tersebut menyeret sejumlah nama yang dianggap sebagai sosok yang suci dan kharismatik di Gereja.

Sulit dipercaya, orang yang paham agama dan dianggap punya otoritas tinggi yang dekat dengan Tuhan, ternyata bertindak di luar dugaan. Tapi, itulah kenyataannya. Fakta yang bicara. Ruggero Conti, mantan Pastor di Selva Candida di pinggiran ibu kota Italia, dinyatakan bersalah oleh pengadilan Roma, atas kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak antara tahun 1998 dan 2008. Selanjutnya, Maret 2011, sebanyak 21 Pendeta di kota Philadelphia, AS, dinonaktifkan karena tersandung kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Dan masih banyak lagi kasus serupa, yang melibatkan petinggi-petinggi Gereja di Kawasan Eropa dan Amerika. Baca entri selengkapnya »





Parpol Berideologi

28 03 2011

Wacana parpol berideologi menjadi kajian menarik untuk dibahas. Parpol yang sangat kental dengan nuansa politik dan kepentingan, perlu dipertanyakan kembali esensi filosofis ideologi yang mereka klaim. Ideologi bisa berkonotasi ganda; negati dan positif. Ideologi sebagai pegangan atau landasan dalam berparpol, menjadi rambu yang mengatur orientasi parpol ke depannya. Sekalipun dalam perjalanannya, seringkali ideologi diabaikan demi kepentingan tertentu. Ideologi bisa berupa Agama, Sosialis, Nasionalis dan Liberal. Mayoritas parpol yang berkembang Indonesia, tak jauh dari ideologi-ideologi tersebut. Wujudnya pun nampak pada asas dan pedoman yang menjadi pegangan parpol.

Wacana ideologi dalam parpol masih dianggap cukup efektif sebelum dan setelah pemilihan umum. Ideologi yang pro terhadap rakyat kecil, pro keadilan, dan pro kemajuan, pro demokrasi, seringkali menjadi nilai tawar yang diperhitungkan oleh rakyat dalam memilih parpol. Ideologi agama dan nasionalis, juga punya peranan yang sepertinya tak kalah signifikan dengan ideologi sosialis yang peduli pada rakyat kecil. Pemandangan yang menarik, karena nilai tawar ideologi yang diajukan oleh parpol, seolah menjadi doktrin dan dogma yang harus dipatuhi segenap element pengurus dan simpatisan. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada diantara pengurus parpol yang membelok (atau bahasa kasarnya, murtad) dari ideologi parpolnya. Resikonya pun terkadang harus ditanggung oleh personal dan internal parpol. Baca entri selengkapnya »





Patron dan Klien di Instansi Keagamaan

28 03 2011

Istilah patron dan klien sering kita dengar dalam kajian Antropologi budaya. Peneliti/antropolog menggunakan istilah ini, sebagai teori untuk mengurai paradigma strukturalis-fungsionalis. Patron-klien merupakan suatu bentuk relasi yang saling menguntungkan antara kedua pihak. Patron biasanya direpresentasikan sebagai orang yang lebih, dalam segala hal, dari si klien. Olehnya itu, fungsi umum patron adalah menjamin kebutuhan dan keperluan klien, sedangkan klien membantu patron mencapai targetnya dan terkadang juga untuk memperlancar usaha si patron. Kehadiran klien sangat membantu patron dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula sebaliknya, patron sangat membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagian orang, mengkorelasikan hubungan ini sebagai relasi antara bos dan anak buah. Namun, sepertinya korelasi ini sepenuhnya kurang tepat, karena istilah bos dan anak buah, seolah mengindikasikan penguasaan hak seseorang atas yang lain. Dalam patron-klien, bisa dikatakan posisi keduanya sejajar, karena didasari oleh ikatan yang saling menguntungkan, sekalipun posisi atau jabatan patron lebih tinggi dari klien. Lebih jelasnya, kita bisa lihat dari contoh berikut. Patron memberikan sesuatu seperti; modal, barang, atau jaminan keamanan kepada klien, dan klien membantu patron mengawasi atau bahkan menjatuhkan lawan/saingan politik atau ekonominya. Singkatnya, patron memberikan sesuatu yang bersifat material sedangkan klien berupa jasa. Jadi, hubungan keduanya didasari atas dasar saling membutuhkan. Baca entri selengkapnya »





Peristiwa Juni 2008, Kekerasan vis a vis Jihad?

28 03 2011

Minggu (1/6/2008) lalu menjadi saksi sejarah, sekaligus menambah koleksi peristiwa berdarah yang terjadi di tanah air. FPI melakukan penyerangan mendadak terhadap AKKBB. Tindakan penyerangan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) merupakan bukti bahwa kesadaran akan perdamaian dan toleransi di Indonesia, semakin memprihatinkan. Hal ini juga yang berpotensi memunculkan spekulasi bahwa kekerasan di Indonesia, sangat sulit untuk dibendung oleh pihak keamanan, apalagi dihilangkan.

Media lokal maupun internasional tak luput menyorot peristiwa yang kontadikti ini. Bahkan, media-media internasional tak segan menyebut peristiwa ini, sebagai imbas dari pemahaman Islam yang fundamental dan radikal. Tak ayal, ada pula yang mencap Islam sebagai agama yang suka dengan kekerasan, intoleran, dan inklusif. Kayaknya, agak sulit memang untuk mengelak animo di atas, apalagi setelah melihat langsung kejadian tersebut di beberapa media elektronik. Di dalam maupun luar negeri, puluhan media cetak dan elektronik menyorot langsung peristiwa ini. Ratusan aktivis FPI dengan seragam putih-putih dan ikat kepala yang bertuliskan ‘Allahu akbar’ serta atribut Islam lainnya, menyerang dan memukul anggota jaringan AKKBB yang sedang berkumpul di depan Monas. Diantara mereka ada yang menggunakan tangan kosong bahkan tak sedikit yang memakai bambu dan persenjataan lainnya, layaknya perang di era pra kemerdekaan. Baca entri selengkapnya »





Sekilas Tentang Filsafat Abad Pertengahan di Eropa

26 03 2011

Sejarawan membagi perkembangan Filsafat menjadi tiga bagian pokok. Yaitu: Abad prasejarah, sebelum yunani (fase Filsafat timur) dan mencakup juga dekade pemikiran Filsafat yunani. Fase ini bermula sebelum Sokrates (tabiiyyah) sampai Sokrates, kemudian Plato dan Aristoteles, yang banyak terinspirasi oleh filsafat abikoriyyah dan ruwakiyya serta Plato modern. Kedua; Filsafat abad pertengahan yang meliputi filsafat Islam, Yahudi dan Kristen. Ketiga; Fase filsafat modern yang dimulai dari abad ke-17, ketika renaisanse terjadi dibelahan bumi Eropa.

Abad pertengahan jika ditinjau dari sejarah, bermula dari runtuhnya imperium Romania tahun 395 M, sampai jatuhnya konstantinopel 1453 M. Kebanyakan ilmuan menyebut fase ini dengan zaman kegelapan. Karena banyaknya sisi-sisi negatip di berbagai bidang. Baca entri selengkapnya »