Emansipasi Perempuan

31 03 2011

Dibalik kesuksesan laki-laki, terdapat dukungan perempuan yang tegar dan kuat. Ungkapan yang agaknya sangat familiar di telinga kita. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sudah saatnya mengobral ungkapan baru ‘dibalik kesuksesan perempuan, terdapat laki-laki yang kokoh’. Zaman modern yang disertai dengan terbukanya pintu kebebasan dalam berbagai hal, berusaha menghapus dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran dan tanggung jawab yang selama ini terjadi, melahirkan gerakan feminist yang hendak memperbaharui pola piker dan tingkah laku masyarakat. Zaman modern berusaha menghapus privatisasi pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan di ruang publik.

Penghapusan dikotomi antara laki-laki dan perempuan yang dikenal sebagai gerakan emansipasi, bukan hal yang baru di Negara ini. Dahulu, R.A. Kartini telah merintis perjuangan dan gerakan ini, dengan semangat yang membara dan tak pernah kendor. Beliau dikenal sebagai pahlawan emansipasi yang sangat konsisten dan tak pernah takut pada ancaman yang membelenggu saat itu. Sebelum era Kartini, perempuan senantiasa dibelenggu dan dibatasi ruang kerjanya di dalam rumah, tanpa ada kewajiban untuk berkarir dan bekerja di luar rumah.

Pemikiran dan budaya yang dominan saat itu, menjadikan perempuan secara kodrati untuk bekerja hanya sebatas urusan rumah tangga. Mengurus anak, memasak untuk keluarga, dan mengurus kebutuhan rumah seolah menjadi beban yang harus dipikul oleh seorang perempuan. Urusan keluar, dibebankan sepenuhnya kepada laki-laki. Tidak ada lowongan dan kesempatan kepada perempuan untuk berkarir dan bekerja di luar rumah, apalagi setelah mereka menikah. Perempuan dibelenggu oleh zaman dan kehidupan yang tidak adil. Pendidikan mereka pun tidak tinggi dibanding laki-laki. Bahkan banyak diantara mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah.

Seiring dengan datangnya Kartini, wacana emansipasi perempuan mulai terlihat dan terbuka. Diantara mereka sudah ada yang bisa mengeyam pendidikan tinggi, sekalipun berkarir di luar rumah masih dibatasi. Kesenjangan itulah yang dikritisi dan direkonstruksi oleh Kartini, demi masa depan generasi mudi bangsa. Kartini telah mendobrak tatanan budaya masyarakat yang selama ini cukup mendiskreditkan dan merampas hak dan kewajiban kaum hawa. Kartini berteriak dengan suara lantang, agar kaum perempuan diberikan hak dan kewajiban yang layak. Mereka juga berhak berkarir dan bekerja di luar urusan rumah tangga.

Gerkan feminisme bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah, dahulu ketika nabi Sulaiman diutus ke bumi untuk menyebarkan syariat Allah, telah ada kerajaan yang dipimpin oleh seorang perempuan, Ratu Balqis. Dikisahkan bahwa Kerajaan ini merupakan kerajaan yang amat kokoh dan kuat pada zamannya. Ratu Balqis berhasil menjadi penguasa dan pemimpin negerinya, yang seharusnya menjadi milik dan hak laki-laki. Ratu Balqis inilah yang kemudian menjadi istri Nabi Sulaiman. Semua agama samawi (agama wahyu) senantiasa menjunjung tinggi harkat dan martabah manusia. Islam sebagai salah satu agama wahyu, terlahir kedunia dengan misi utama untuk menjadikan semua manusia sebagai mahluk yang mulia dan agung. Menjadikan perempuan sebagai mahluk yang terhormat, layaknya laki, dimana sebelumnya mereka dianggap kurang bermatabat dan tercelah. Islam datang untuk meniadakan tembok pembeda dan pemisah antara laki-laki dan perempuan. Islam mengajarkan kepada manusia bahwa yang membedakan laki-laki dan perempuan, cuma dari segi ketakwaan.

Dunia modern merombak semua tembok sejarah dan budaya yang membelenggu kaum perempuan. Indonesia menjadi contoh yang bisa dilihat dengan jelas. Indonesia telah membuka peluang bagi semua warganya untuk berkaris dan bekerja di semua institusi yang ada. Gerakan emansipasi bisa kita lihat, bagaimana Indonesia memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua golongan dan jenis kelamin, untuk menjadi pejabat di pemerintahan. Indonesia punya menteri perempuan, Mari Elka Pangestu sebagai menteri perdagangan, Meutia Hatta Swasono menteri negara pemberdayaan perempuan, Ratu Atut Chosiya, gubernur banten. Bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh seorang perempuan, Megawati Soekarno Putri.

Dunia modern bukannya tak punya celah bagi perempuan. Kebebasan yang diagungkan zaman ini, bisa membuat kaum perempuan terlena dan lupa diri. Kebebasan bisa menjadi bumerang bagi mereka hingga terjerumus dalam lembah kehinaan, seperti masa silam. Jadi, emansipasi perlu dikawal dan dikritisi apabila keluar dari jalur dan melanggar rambu-rambu, yang bisa membahayakan citra perempuan sebagai mahluk yang terhormat dan mulia.

Pojok Monjali, 31-03-11

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: