Peristiwa Juni 2008, Kekerasan vis a vis Jihad?

28 03 2011

Minggu (1/6/2008) lalu menjadi saksi sejarah, sekaligus menambah koleksi peristiwa berdarah yang terjadi di tanah air. FPI melakukan penyerangan mendadak terhadap AKKBB. Tindakan penyerangan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) merupakan bukti bahwa kesadaran akan perdamaian dan toleransi di Indonesia, semakin memprihatinkan. Hal ini juga yang berpotensi memunculkan spekulasi bahwa kekerasan di Indonesia, sangat sulit untuk dibendung oleh pihak keamanan, apalagi dihilangkan.

Media lokal maupun internasional tak luput menyorot peristiwa yang kontadikti ini. Bahkan, media-media internasional tak segan menyebut peristiwa ini, sebagai imbas dari pemahaman Islam yang fundamental dan radikal. Tak ayal, ada pula yang mencap Islam sebagai agama yang suka dengan kekerasan, intoleran, dan inklusif. Kayaknya, agak sulit memang untuk mengelak animo di atas, apalagi setelah melihat langsung kejadian tersebut di beberapa media elektronik. Di dalam maupun luar negeri, puluhan media cetak dan elektronik menyorot langsung peristiwa ini. Ratusan aktivis FPI dengan seragam putih-putih dan ikat kepala yang bertuliskan ‘Allahu akbar’ serta atribut Islam lainnya, menyerang dan memukul anggota jaringan AKKBB yang sedang berkumpul di depan Monas. Diantara mereka ada yang menggunakan tangan kosong bahkan tak sedikit yang memakai bambu dan persenjataan lainnya, layaknya perang di era pra kemerdekaan.

Tindakan FPI bisa mencoreng nama Islam di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Sekalipun mengatas namakan ormas FPI sendiri, tapi sangat sedikit penganut agama lain yang bisa berpikir objektif untuk menilai bahwa tindakan itu merupakan aksi dari FPI semata. Imbasnya, bisa menjalar kepada seluruh umat Islam Indonesia dan seluruh dunia. Masyarakat dunia masih merekam baik memori peristiwa 11 september 1999 silam, yang menempatkan Islam sebagai aktor dan dalang dibalik semua kejadian itu. Kita tak mau agama yang toleran dan damai ini, ternoda oleh aksi segelintir orang atau kelompok yang mengatas namakan Islam. Kita tentu tak ingin dikatakan sebagai agama yang suka kekerasan, intoleran dan benci perdamaian. Kita ingin menjadi penganut agama yang bisa menjadi teladan bagi agama lain. Hal itu bisa tercapai jika kita bisa menjadi panutan bagi mereka.

Dalam kaca mata Islam sendiri, tindakan kekerasan sangat bertentangan dengan prinsip dasar agama ini. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Q.S 2:190)”. Sejak resmi dinyatakan berdiri, AKKBB tidak pernah menyatakan langsung perang terhadap Islam dan orang-orang Islam. Bahkan orang-orang yang turut andil dalam kelompok ini, mayoritas beragama Islam. Maka tak ada alasan yang jelas bagi FPI untuk melakakukan aksi kekerasan terhadap AKKBB. Bahkan non Islam yang menyatakan permusuhan dan perang terang-terangan dengan Islam, wajib untuk dilawan dan diperangi, tapi sampai pada batas-batas tertentu. Batasan ini harus menjadi acuan bagi umat Islam agar tidak melakukan anarkisme yang bisa menjadikan dirinya lebih hina dari syetan.

Konon dahulu kala, sebelum bumi ini dihuni oleh Nabi Adam AS (bapak manusia), Syetan pernah menjadi penduduk sementara jagad raya. Akan tetapi, karena tindakan mereka yang saling berperang dan membunuh antara sesama, membuat bumi ini jauh dari peradaban dan perkembangan. Maka dicabutlah izin huni Syetan oleh Allah Swt., sekaligus melantik manusia sebagai pewaris jagad raya ini. Kita tak ingin kejadian iblis dan syetan terulang kembali di alam ini. Hanya dengan penalaran yang objektif dan kesadaran bersama, kita mampu keluar dari kemelut kekeran di muka bumi.

Dalam berperang, ada beberapa syarat yang wasiatkan oleh nabi Muhammad bagi umatnya yang ingin melakukan peperangan atau penyerangan, itupun berlaku kalau memang perang tak terelakkan lagi. Tapi, apabila perang bisa dielakkan, maka itu merupakan alternative yang bisa menjadi pilihan bersama, demi tercapainya kemaslahatan di muka bumi. Wasiat ini wajib dipatuhi dalam setipa aksi peperangan dan penyerangan. Diataranya wasiat itu; jangan sekali-kali membunuh dan melukai perempuan, anak-anak dan orang tua yang sudah lanjut usia. Aksi penyerangan AKKBB menimbulkan jatuhnya korban anak-anak, wanita bahkan orang tua lansia. Tidak sedikit dari mereka yang cedera parah akibat penyerangan ini. Tak ayal lagi, tindakan anarkisme FPI telah melanggar kode etik penyerangan yang telah diwasitkan oleh Nabi Saw.

Allah Swt. mensinyalir dalam Alquran, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya (Q.S; 4;93)”. Untunglah kejadian ini tidak sampai menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Karena hal ini bisa mendatangkan laknat Allah Swt. di akhirat kelak. Beberapa dari anggota AKKBP merupakan umat Islam, yang masih percaya dan mengakui keesaan Allah Swt. dan masih setia akan keislaman mereka. Sekiranya kejadian ini merenggut nyawa mereka, maka ancaman Allah Swt. dengan jahannam-Nya, saya kira tidak bisa ditawar.

Dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (Q.S; 4;29)”. Larangan membunuh diri juga termasuk larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri. Orang lain termasuk dalam kategori umat yang merupakan suatu kesatuan yang saling mengokohkan. Aksi FPI menelan korban umat dan saudara sendiri, yang merupakan ikon bagi tegaknya negara kesatuan Indonesia dan agama Islam. Kita tentu tak ingin persatuan dan kesatuan Indonesia dan agama Islam terpecah, hanya karena ulah segelintir orang yang melakukan tindakan anarkis.

Pada level nasional, kejadian ini berdampak kurang harmonisnya hubungan antara umat beragama di Indonesia. Bahkan, dikalangan Islam sendiri timbul benih-benih perpecahan yang semakin nyata dan jelas, pasca penyerangan ini. Puluhan ormas Islam menyatakan simpati terhadap AKKBB dan mengutuk keras tindakan FPI sebagai aksi yang dinilai jauh dari nilai-nilai Islami. Lebih parah lagi, ormas-ormas Islam itu mengimbau kepada pemerintah agar segera mungkin mambubarkan FPI, karena organisasi ini dianggap sebagai biang perpecahan di tubuh negara republik Indonesia.

Jika realitanya demikian, tampaknya problematika perpecahan umat akan semakin sulit untuk dibendung apalagi dihapuskan. NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, Jil, Ihwan Muslimin, Wahdah Islamiyah, Majelis Mujahidin Indonesia, dan beberapa organisasi lain (yang lahir dalam tubuh umat Islam Indonesia) merupakan realita yang tak bisa dipungkiri lagi. Olehnya itu, sudah saatnya kita semua butuh fikih kesepahaman, yang mampu melahirkan sikap saling menghargai dan memahami antara sesama pemeluk Islam dan manusia.

Mari sejenak merenungkan ungkapan Nabi Muhammad Saw. 14 abad silam, yang menyatakan bahwa “Umatku akan terbagi dalam 73 golongan, hanya satu golongan yang selamat dan masuk surga, yaitu yang mengikuti Alquran dan sunnah rasul-Nya”. Jadi pertanyaannya adalah; Apakah kita semua termasuk dalam kategori golongan yang selamat. Saat ini, siapakah yang berhak menjustifikasi kategori 1 dan 72. Dengan banyaknya Ormas Islam di dunia bahkan di Indonesia, siapakah yang termasuk dalam golongan yang selamat. Bagaimana menyikapi golongan yang 72. Sepertinya kita harus legowo dan berlapang dada dengan berbagai ormas Islam yang ada untuk menghindari kesalah pahaman dan menjauhi klaim sebagai kelompok yang paling benar.

Kairo, 2 Juni 2008

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: