Parpol Berideologi

28 03 2011

Wacana parpol berideologi menjadi kajian menarik untuk dibahas. Parpol yang sangat kental dengan nuansa politik dan kepentingan, perlu dipertanyakan kembali esensi filosofis ideologi yang mereka klaim. Ideologi bisa berkonotasi ganda; negati dan positif. Ideologi sebagai pegangan atau landasan dalam berparpol, menjadi rambu yang mengatur orientasi parpol ke depannya. Sekalipun dalam perjalanannya, seringkali ideologi diabaikan demi kepentingan tertentu. Ideologi bisa berupa Agama, Sosialis, Nasionalis dan Liberal. Mayoritas parpol yang berkembang Indonesia, tak jauh dari ideologi-ideologi tersebut. Wujudnya pun nampak pada asas dan pedoman yang menjadi pegangan parpol.

Wacana ideologi dalam parpol masih dianggap cukup efektif sebelum dan setelah pemilihan umum. Ideologi yang pro terhadap rakyat kecil, pro keadilan, dan pro kemajuan, pro demokrasi, seringkali menjadi nilai tawar yang diperhitungkan oleh rakyat dalam memilih parpol. Ideologi agama dan nasionalis, juga punya peranan yang sepertinya tak kalah signifikan dengan ideologi sosialis yang peduli pada rakyat kecil. Pemandangan yang menarik, karena nilai tawar ideologi yang diajukan oleh parpol, seolah menjadi doktrin dan dogma yang harus dipatuhi segenap element pengurus dan simpatisan. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada diantara pengurus parpol yang membelok (atau bahasa kasarnya, murtad) dari ideologi parpolnya. Resikonya pun terkadang harus ditanggung oleh personal dan internal parpol.

Ideologi parpol sangat penting. Terkadang menentukan arah bangsa ke depan, setidaknya selama lima tahun. Dengan melihat ideologi parpol pemegang pemerintahan, kita sudah bisa menganalisa lebih awal arah dan orientasi pemerintahan kelak. Kalaupun meleset, itu tak terlalu jauh dari analisa awal. Sebagai contoh, Jika pemegang pemerintahan berasal dari parpol yang berideologi nasionalis, maka bisa diprediksi bahwa sistem kenegaraan dan pemerintahan tak jauh dari sistem nasionalis, yang mengusung identitas kebangsaan nasional. Kecenderungan ini memang hal yang biasa dalam percaturan politik.

Namun, yang menjadi persoalan ketika pemegang pemerintahan terdiri dari beberapa partai dengan multi ideologi. Sengketa kepentingan pun menjadi persoalan, yang terkadang sulit diatasi. Ketika Nasionalis, Agamais, dan Sosialis berkoalisi memegang pemerintahan, maka yang terjadi kemudian adalah perang antar ideologi. Konflik kepentingan pun menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh segenap parpol pengusung Pemerintah. Terkadang ideologi dikesampingkan demi kepentingan-kepentingan pribadi. Pembagian jatah kekuasaan pun dilakukan, guna meredam dan mengatasi perbedaan ideologi.

Indonesia bisa menjadi contoh yang nyata. Ketika SBY, yang berasal dari parpol berideologi nasionalis, memegang pemerintahan, maka digaetlah koalisi dari partai yang berideologi agama (PKS, PAN dan PPP), dan partai yang berideologi Pancasila, Golkar dan PKB. Koalisi dari beberapa ideologi akhirnya identik dengan pembagian kekuasaan dan ajang mencari simpati rakyat dan presiden. PKS, PAN, PPP, PKB dan Golkar, sibuk mencari simpati dari masyarakat dan presiden, dengan berusaha memperbaiki wibawa dan citra mereka di pemerintahan. Tak mau kalah, Demokrat pun berusaha semaksimal mungkin agar senantiasa tampil cantik dan menawan di mata rakyat. Hasilnya, Demokrat memiliki dua beban yang bersamaan; antara mengurus koalisi yang sering nyeleneh dan menjaga citra positif di mata masyarakat.

Inilah realita dari demokrasi kita di Indonesia. Jika peristiwa ini terus berlanjut tanpa adanya solusi yang jelas, maka apa yang selama ini diusung oleh demokrasi, bisa menjadi bumerang yang mampu melemahkan dan membunuh demokrasi itu sendiri. Sepertinya, beberapa parpol yang beredar dalam lalu lintas perpolitikan Indonesia, sudah tidak konsisten lagi dengan ideologi yang selama ini mereka pegang. Alih-alih membela kepentingan rakyat kecil dan bangsa, malah sebaliknya justru parpol menjadi ajang pemerasan dan pembunuhan rakyat. Kepentingan personal dan internal parpol seolah menjadi nilai tawar yang harus senantiasa dijaga dengan baik.

Aroel, Pojok Monjali 20-02-2011

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: