Sekilas Tentang Filsafat Abad Pertengahan di Eropa

26 03 2011

Sejarawan membagi perkembangan Filsafat menjadi tiga bagian pokok. Yaitu: Abad prasejarah, sebelum yunani (fase Filsafat timur) dan mencakup juga dekade pemikiran Filsafat yunani. Fase ini bermula sebelum Sokrates (tabiiyyah) sampai Sokrates, kemudian Plato dan Aristoteles, yang banyak terinspirasi oleh filsafat abikoriyyah dan ruwakiyya serta Plato modern. Kedua; Filsafat abad pertengahan yang meliputi filsafat Islam, Yahudi dan Kristen. Ketiga; Fase filsafat modern yang dimulai dari abad ke-17, ketika renaisanse terjadi dibelahan bumi Eropa.

Abad pertengahan jika ditinjau dari sejarah, bermula dari runtuhnya imperium Romania tahun 395 M, sampai jatuhnya konstantinopel 1453 M. Kebanyakan ilmuan menyebut fase ini dengan zaman kegelapan. Karena banyaknya sisi-sisi negatip di berbagai bidang.

1. Sosial
Rakyat tebagi menjadi beberapa golongan yang kontras dan terjadinya pertarungan antara golongan. Yang paling mencolok adalah golongan penguasa. Merekalah yang menikmati kemewahan dan kemakmuran serta mengusai golongan yang lain. Adapun golongan menengah, cuma menikmati sedikit kemewahan dan patuh pada penguasa. Sedangkan golongan ketiga yaitu kelas buruh dan petani. Mereka bekerja keras tanpa menikmati hasil jerih payahnya dengan memadai. Mereka dizalimi oleh penguasa. Karakteristik ini menimbulkan banyak ketimpangan dan kekacauan yang mengancam stabilisasi sosial.

2. Agama
– Beredarnya paham yang melenceng dalam Kristen, seperti faham tentang penyaliban Yesus, konsep trinitas, tajsid dan sebagainya.
– Pemuka agama (pendeta) menjadi sosok yang tertutup. Masyarakat umum tidak dapat masuk menjadi golongan mereka.
– Mereka (pendeta) membuat buku pedoman yang makna dan interpretasinya tergantung pada pemahamannya sendiri.
– Para pendeta mengobral faham pengampunan dosa. Artinya seseorang tidak akan sampai ke Surga sebelum datang ke pendeta, untuk menyampaikan dosa-dosanya dan membayar sesuai dengan kemampuan, untuk menjamin kedudukannya di Surga kelak. Jadi, golongan pendeta dan pemuka agama menjadi kaya karena upah dari pengampunan dosa.

3. Arus Pemikiran
– Arus pemikiran terbatas pada Gereja. Apa yang dianggap benar oleh Gereja adalah benar bagi semua masyarakat.
– Akal tidak boleh berbeda pendapat dengan Gereja. Jika seseorang berusaha dan mencoba untuk berbeda dengan gereja, maka harus dihukum mati atau dibakar hidup-hidup.
– Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa latin. Saat itu, bahasa latin sangat sulit bagi masyarakat. Namun, lama kelamaan mereka terbiasa dengan bahasa latin.
– Objek pembahasan dan kajian Filsafat sebatas metafisika dan pemikiran relativitas. Seperti pembahasan tentang kulliyat dan semua pembahasan falsafat relativitas.
– Para filosop berpegang pada kritikan yang mandul terhadap persoalan relativitas. Model kritik seperti ini tidak akan menyebabkan perkembangan dari segi pemikiran.
– Perkembangan kebudayaan pada abad ini, masih dalam control dan genggaman Gereja, sehingga sifatnya dangkal dan terbatas. Keadaaan ini berlanjut sampai munculnya gerakan penerjemahan Filsafat Islam dan Yunani, yang sampai ke Eropa pada abad pertengahan. Gerakan penerjemahan ini dimulai pada abad ke-12. Masyarakat Eropa banyak mengambil mampaat dari filosop dan pemikir Islam dari hasil terjemahan mereka.

Pengaruh Islam pada abad pertengahan dapat dilihat dari dua aspek;
1- Ilmu-ilmu Islam, khususnya filosop Islam yang berasal dari Maroko telah sampai ke Eropa melalui Spanyol (Andalusia) dan Italia Utara.
2- Munculnya kelompok-kelompok pemikir dan filosop di Eropa pada abad pertengahan. Beberapa kelompok mengambil nama-nama filosop Islam, Seperti kelompk Sinawi dinisbahkan kepada Ibn Sina, kelompok Ibn Rusd atau Ibn Rusd Latin nisbah kepada Ibn Rusd.

Akhir abad pertengahan, mulailah Filosof-filosop Eropa –yang dipelopori Roger Bikon– mempelajari dan menerjemahkan majalah, artikel dan buku-buku ilmuwan Islam, seperti Hasan bin Hisyam, Jabir bin Hayyan. Gerakan pembaharuan ini menyerukan pentingnya menggunakan metode experimen (percobaan) dan menanggalkan metode kritik yang mandul, yang selama ini mereka pakai.

Aliran-aliran Pemikiran dan Filsafat
Falsafat Abad Pertengahan dan Falsafat Skolastik

Sebelum membahas aliran-aliran ini, agaknya penting bagi kita untuk mengamati petikan berikut ini:

Kebanyakan ilmuwan menjustifikasi dan mengklaim bahwa mempelajari filsafat abad pertengahan kurang bermampaat. Karena tidak mendatangkan sesuatu yang baru dalam ranah pemikiran. Tapi, kita bisa mengkritiknya dan mengatakan bahwa:
– Pemikiran filsafat adalah sebuah mata rantai, yang berlalu mempengaruhi pemikiran selanjutnya. Sehingga kita tidak dapat mengabaikan falsafat abad pertengahan, karena akan memutus tali sejarah perkembangan Filsafat itu sendiri.
– Filsafat abad pertengahan juga disibukkan oleh masalah-masalah pemikiran filsafat. Seperti masalah kulliyat, hubungan antara agama dan filsafat, persoalan ilahiah dan jiwa, dan sebagainya yang banyak mempengaruhi filosop modern. Bertolak dari hal tersebut, maka penting bagi kita untuk mempelajarinya.

Filsafat abad pertengahan dimulai pada abad ke-9 sampai abad ke-14, yang terkenal dengan masa skolastik. Adapaun fase sebelum abad pertengahan disebut fase bapa, yang bercirikan;
1. Pengajaran dan pendidikan terbatas pada Gereja.
2. Pengajar juga terbatas pada pastor dan pendeta.
3. Adapun persoalan-persoalan yang diajarkan, sebatas masalah agama Kristen dan taktik membelah dan mempertahankan argument tentang penyaliban, trinitas, kesalahan, tajsid dan sebagainya.
4. Mayoritas pendeta belum membicarakan masalah-masalah esensi Filsafat, kecuali Thomas Agustine.

Adapun fase skolastik dimulai pada abad ke-9 bercirikan:
1. Pendidikan dan pengajaran mulai tersebar di luar Gereja
2. Pemikir dan ilmuwan mulai memikirkan persoalan-persoalan Filsafat dan mereka berusaha menyeleraskan antara Filsafat dan agama.
3. Munculnya filosop-filosop yang intens membahas persoalan ketuhanan, alam dan manusia. Mereka berusaha menyelarasikan hubungan anatara Filsafat dan agama.
4. Kebanyakan dari mereka mengambil mampaat dari penerjemahan pemikiran Islam dan Yunani.

Adapun aliran-aliran Filsafat fase ini, mencakup dua aliran besar; Aliran Plato dan Aristoteles. Aliran Plato (Platonius) Bercirikan:

– Penganutnya banyak terpengaruh oleh pemikiran Plato tentang alam impian, yaitu alam yang berbeda dengan materi yang dianggap sebagai alam khayal.
– Filosop yang merepresentasikan pemikiran Plato pada abad pertengahan adalah Thomas Augustine.

Aliran Aristoteles (Aristotelanius) bercirikan:
1. Pengikutnya melihat wujud dengan pandangan realitas. Mereka mengatakan bahwa tidak ada alam selain alam yang kita hidupi sekarang. Mereka juga berpendapat bahwa esensi alam hanya terdapat dalam pikiran.
2. Filosof yang merefresentasikan pemikiran Aristoteles pada abad pertengahan adalah Thomas Aquinas.

Efek dari perbedaan dua aliran besar itu nampak dalam beberapa persoalan yang digeluti oleh beberapa filosop, diantaranya:

1. Masalah penyesuaian antara agama dan falsapat. Platonius mengatakan bahwa keduanya adalah sesuatu yang saling berkaitan. Sedangkan Aristotelanius berpendapat keduanya saling berbeda.
2. Masalah kulliyat (wujud kully), seperti masalah kemanusiaan diyakini oleh sebagian filosof, Platonius mengatakan bahwa hal tersebut benar adanya tapi bukan di alam kita, sedangkan Aristotelanius berbeda dengan Platonius.
3. Hakikat kully. Aristotelanius berpendapat bahwa kully ini sekedar nama dari sesuatu. Tidak ada wujud kecuali adanya tanda-tanda.

Ruang Lingkup Filsafat Kristen
Para pemikir berbeda pendapat tentang Filsafat Kristen. Mereka terbagi menjadi dua bagian. Pertama; Golongan yang menafikan adanya filsafat Kristen, dengan beberapa alasan:
1. Istilah filsafat Kristen mencakup dua hal yang saling bertentangan; Filsafat merupakan aktifitas akal murni yang tidak terikat dengan sesuatu. Sedangkan kata Kristen terikat dan komitmen dengan ajaran agama tententu. Oleh karena itu, mustahil adanya Filsafat Kristen, karena di dalam Kristen terdapat suatu rahasia yang tak dapat diketahui kecuali dengan wahyu.
2. Tidak ada unsur dalam Kristen yang mendorong untuk berFilsafat.
3. Jika kita bahas produk dari Filsafat Kristen, maka kita tidak akan menemukan sesuatu yang baru. Semua pemikiran Filsafat tidak jauh dari pendapat Plato dan Aristoteles.
4. Rasionalis berpendapat, jika kita pergunakan Filsafat untuk membela agama Kristen, maka seyogyanya agama itu mampu membela dirinya sendiri dengan logika mantiknya sendiri.
5. Usaha Filsafat Kristen untuk mengontrol akal dengan kaca mata agama, akan menyebabkan perubahan Filsafat menjadi ilahiah sehingga keluar dari bingkai Filsafat.

Kelompok-kelompok yang merepresentasikan orientasi ini.
1) Sebagian besar pemuka agama Kristen. Mereka berpendapat bahwa tujuan agama untuk menumbuhkan keihlasan dalam beribadah. Sedangkan Filsafat tidak dapat membantu mewujudkan tujuan ini. Malah menjadi penghambat karena senantiasa menggunakan standar akal atau rasionalitas.
2) Sebagian rasionalis, yang berpendapat bahwa agama tidak rasional, sedangkan berFilsafat berarti melakukan kegiatan yang bersifat rasional. Jadi, keduanya tidak mungkin bisa bersatu. Mereka juga berpendapat bahwa sekiranya ada Filsafat Kristen, maka ada juga astronomi atau kedokteran Kristen. Tapi itu tidak terjadi, maka Filsafat Kristen juga tidak ada.
3) Sebagian besar akademisi berpendapat bahwa agama adalah sesuatu yang irasional sedangkan filsafat bersifat rasional. Jadi tidak mungkin bisa disatukan.

Kedua; Kelompok yang berpendapat dan berpegang pada adanya Filsafat Kristen. Mereka berdalil sebagai berikut;
1) Terkadang akal kurang mampu menganalisa sesuatu persoalan, maka agama datang untuk membantu. Begitu pula sebaliknya.
2) Jika melihat hakikat agama dan filsafat, maka keduanya berusaha mencari kebenaran. Kebenaran tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, bahkan saling mendukung dan menguatkan.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: