Terima Kasih Versi Aparat

25 03 2011

Ini hanya lelucon. Namun tersirat pesan yang mendalam dan bisa merepresentasikan realita di sekitar kita. Tidak sulit untuk menemukannya. Setiap hari, kita selalu melihat atau bahkan merasakan sendiri, pengalaman ini.

Katanya, ucapan terima kasih bisa mengukur atau menganalisa karakteristik seorang Aparat keamanan. Benarkah demikian? Butet Kertaradjasa, seniman yang kritikus, mengungkap hal tersebut pada acara ‘Sentilan Sentilun’ di Metro TV.

Seorang aparat keamanan bisa di tahu atau diidentifikasi, melalui tambahan kata setelah ucapan ‘terima kasih’. Angkatan udara misalnya, mengucapkan ‘terima kasih setinggi-tingginya’. Mungkin karena udara identik dengan tinggi-tinggi. Jadinya, terima kasih setinggi-tingginya. Angkatan laut mengucapkan ‘terima kasih sedalam-dalamnya’. Karena laut identik dengan kata dalam. Angkatan darat, ‘terima kasih seluas-luasnya’. Diidentikkan dengan daratan yang luas.

Kemudian bagaimana dengan ucapan terimah kasih seorang aparat kepolisian. Dengan percaya diri Butet menjawab, ‘terima kasih sebanyak-banyaknya’. Di sini, kata banyak bisa memunculkan banyak interpretasi. Lalu muncul pertanyaan. Apa kaitan kata ‘banyak’ dengan aparat kepolisian?.

Sindrom ‘banyak’, sepertinya sudah melekat pada karakter seorang polisi. aparat kepolisian senantiasa identik dengan kata banyak. Banyak di sini, bisa berarti banyak korupsi, banyak cacatnya di mata masyarakat, banyak pelanggarannya, banyak menerima suap, banyak meresahkan masyarakat, dll.

Kita tidak mau memandang sebelah mata aparat kepolisian. Namun, pepatah ‘hujan sehari bisa menghapus kemarau setahun’, bisa menjadi bumerang untuk menjustifikasi institusi kepolisian. Secara institusi, kepolisian menduduki peringkat yang paling di benci oleh masyarakat. Padahal, seharusnya intitusi ini, diharapkan mampu bersahabat dengan masyarakat.

Ada banyak polisi yang baik, namun tidak sedikit juga polisi yang kurang baik. Citra kepolisian, telah dirusak oleh beberapa oknum yang ada di dalam institusi ini. Dan kerusakan ini, terlihat langsung oleh masyarakat. Karena pekerjaan polisi, senantiasa bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dan sepertinya masyarakat kita, hanya punya dua kategori; baik dan buruk.

Intitusi ini harus segera mereformasi total sistem yang kurang baik di dalamnya. Hal itu memang tidak mudah. Perlu beberapa tahap. Sindrom Buruk telah memasuki tahap kritis di tubuh kepolisian.

Munculnya sosok calon Kapolri baru, Timur Pradopo, memberikan harapan baru. semoga agenda perubahan ke arah yang lebih baik, dapat terlaksana dengan lancar. Sehingga ucapan ‘terima kasih sebanyak-banyaknya’ bisa berubah menjadi terima kasih sebaik-baiknya. Baik dalam melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: