Wacana Terorisme

24 03 2011

Terorisme adalah istilah yang sangat subektif. Setiap orang atau kelompok punya definisi tersendiri tentang terorisme. Namun bukan berarti kata ini tidak mempunyai definisi yang global. Terorisme adalah tindakan yang dilakukan dengan tujuan menakut-nakuti, mengancam, melukai atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja. Dari definisi ini jelas bahwa terorisme erat kaitannya dengan aktifitas yang bernuansa negatif. Sehingga, aktifitas apapun yang menakuti dan mengancam nyawa manusia layak dikategorikan sebagai terorisme.

Terorisme sudah ada sejak zaman dahulu. Bentuknya pun bermacam-macam; ada terorisme atas nama agama, keluarga, suku, ras, dan bangsa. Namun istilah ini lebih popular di abad 20, setelah WTC dan Pentagon hancur oleh serangkaian serangan yang dilakukan para teroris. Sejak itu pula istilah ini lebih banyak dikaitkan dengan agama, khususnya Islam. Sebelum 9/11, terorisme atas nama agama telah sudah sering terjadi di berbagai belahan dunia. Bahkan terorisme atas nama agama pernah juga dikaitkan dengan Yahudi dan Kristen di Eropa. Mungkin itu sebabnya, pada perkembangan selanjutnya terorisme selalu dikaitkan dengan agenda fundamentalis dalam agama.

Kejadian 9/11 seolah menandai babak baru sejarah terorisme atas nama agama di dunia ini. Islam sebagai salah satu agama besar di dunia harus menanggung resiko ketika dicap sebagai agama terorisme oleh dunia international. Tentu ini tak lepas dari kontestasi politik dunia dan cara pandang Eropa dan Amerika terhadap islam. Serangan 9/11 yang ditengarai dilakukan oleh sekelompok orang islam, dijadikan legitimasi oleh Amerika dan Eropa untuk mencap Islam sebagai sarang terorisme. Maka, tidak heran kemudian jika peran melawan terorisme diartikan sebagai peran melawan Islam.

9/11 pulalah yang menandai drama kolonialisasi dunia modern. Alih-alih membasmi terorisme, Amerika dan Eropa berusaha menguasai negara-negara yang mayoritas berpunduduk Islam. Irak diserang dengan alasan pemilikan senjata pemusnal massal, Afganistan diserang karena menyembunyikan Osama bin Laden, dicap sebagai otak tragedi 9/11. Perkembangan selanjutnya, Obama bin laden dan gerakan talibannya dijadikan sebagai kambing hitam aksi terorisme di Amerika dan di seluruh dunia. Dampak dari justifikasi taliban sebagai kelompok terorisme, menyeret sejumlah kelompok islam yang tersebar di berbagai belahan dunia. Negara pun dihegemoni oleh paradigma Amerika bahwa kelompok islam itu tidak jauh beda dengan Taliban yang menginginkan kekacauan di mana-mana.

Begitulah Amerika membangun paradigma baru tentang terorisme di abad modern. Citra Islam sebagai sarang teroris tak lepas dari subjektifitas Amerika terhadap terorisme. Ini pulalah yang menjadi legitimasinya untuk memperluar daerah jajahannya di timur tengah dan negara-negara yang lain. Alih-alih ingin membasmi terorisme, namun memiliki agenda yang tersembunyi untuk menguasai perekenomian dan politik negara tersebut. Amerika sadar betul bahwa ekonomi dan politik merupakan dua unsur yang sangat fital dan signifikan bagi eksistensi sebuah negara. Invasi pun berlangsung, satu demi satu negara di Timur Tengah berhasil dikuasai. Irak dikuasai bidang ekonomi dan politiknya. Mesir, Yordania, Syiria, dan Tunisia dijajah lewat ekonomi, dan beberapa negara-negara arab yang lain.

Amerika sering mengaitkan terorisme sebagai jaringan internasional yang memiliki jaringan di seluruh dunia. Disebutkan bahwa Jaringan ini didanai oleh wahabisme yang berpusat di Arab Saudi. Pertanyaan yang muncul kemudian, jika memang wahabisme yang menjadi donatur terorisme internasional, mengapa Amerika tidak menyerang langsung Arab Saudi. Bahkan Amerika menjalin kerja sama yang erat dengan pemerintah Arab Saudi. Disebutkan pula bahwa salah satu pilot pesawat yang meledakkan WTC adalah warga negara Saudi. Belum cukupkah bukti Amerika untuk menyerang Saudi ataukah Amerika khawatir pasokan minyak dari saudi terputus jika mencampuri kedaulatan Arab Saudi. Jelasnya faktor ekonomi dan politik saling berkaitan.

Bisa disimpulkan bahwa perang global untuk menghabisi terorisme, mengusung ciri-ciri sebuah mitos politik yang diprogandakan untuk melicinkan jalan bagi sebuah agenda yang lain yakni, aspirasi Amerika Serikat untuk membangun hegemoni mendunia. Ekonomi dan politik menjadi faktor yang dominan dalam berbgai hal. Langkah selanjutnya adalah melakukan kekerasan dalam rangka menguasai segenap pasokan minyak dan gas bumi demi kepentingan dalam negeri. Banyak yang sadar akan hal ini, namun tidak berdaya dengan paradigma yang telah disebarkan oleh Amerika.

Namun ada pula yang mengaitkan perang atas terorisme adalah perang terhadap Islam. Bayang-bayang akan buruknya perang salib zaman pertengahan masih membekas di benak sebagian besar orang Eropa dan Amerika. Perang yang melibatkan Islam dan Kristen ini, sering menjadi justifikasi oleh beberapa kelompok sebagai perang yang senantiasa berkelanjutan. Dampaknya, Baik Islam maupun Kristen sering mengaitkan pertentangan yang terjadi dewasa ini dengan bayang-bayang perang salib di masa lalu. Seolah telah menjadi benih doktrin permusuhan yang terus terjadi dan akibatnya saling curiga diantara penganut agama menjadi konsekuensi yang harus ditanggung bersama.

Ketika pemerintah Amerika menyerukan perang melawan terorisme berarti perang kristen terhadap Islam. Sepertinya identitas Amerika sebagai Kristen sulit dilepaskan oleh sebagian besar penganut Islam diberbagai belahan dunia. Lebih parah, ketika identitas Kristen dilekatkan pada masyarakat Eropa yang pernah benci dengan otoritas gereja. Sudah saatnya paradigma tentang terorisme harus direkonstruksi. Sehingga, sikap saling curiga dan salah paham terhadap yang lain sebisa mungkin diatasi dengan mudah. Sepertinya butuh perjuangan yang panjang.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: