Untuk Seorang Uchi

19 09 2008
The Girls In My Mind

The Girls In My Mind

Uchi, begitu aku memanggilnya. Sosok yang sederhana, senantisa menebar pesona. Terlahir dari kaluarga yang sederhana tapi tetap menjaga nilai-nilai dan etika islam.

Uchi adalah seorang mahasiswi UIN Makassar. Ia cantik, menarik, baik hati, peduli pada sesama dan lingkungan, organisatoris, taat pada ajaran agama, memiliki ahklak yang mulia dan disukai banyak orang. Namanya familiar di kalangan kampus dan di lingkungan tempat tinggalnya.

Suatu hari, kampus mengadakan acara Orientasi Mahasiswa Baru (Maba). Uchi ditunjuk sebagai ketua. Ia bersedia dengan harapan bisa membantu mahasiswa dan mahasiswi baru, mengarungi dunia kampus. Menjadi insan akademis, berjiwa progress, berahlak mulia dan taat pada aturan agama, adalah tema yang diusung orientasi ini.

Uchi menjadi sosok yang sangat sibuk. Hobinya membaca di Perpustakaan, menghapal Alquan di mesjid (walau sejenak), kini terfokus pada jabatan ketua orientasi Maba yang ia pegang. “Sesekali ia menampakkan muka. Tapi, akhir-akhir ini Uchi jarang terlihat” terang Halima, pegawai perpustakaan UIN padaku. Aku memang sering membaca di perpustakaan dengan Uchi. “Kalau ada hal penting, langsung saja ke sekertariat Orientasi Maba” lanjutnya.

Aku memang akrab dengan Uchi. Makan bareng di kantin kampus, membaca buku di perpustakaan, salat Duhur di masjid kampus dan mengajar anak-anak TPA “Al Ilmu” di mesjid “Ar Rahman” (dekat Rumah Uchi) adalah rutinitas sehari-hari kami.

Uchi adalah sosok organisatoris ulung. Sedangkan Aku termasuk tipe mahasiswa yang vakum dalam kegiatan kampus. Memperoleh gelar sarjana tepat waktu dan menjadi seorang guru agama adalah prioritas utamaku.

Awal pertemuanku dengan Uchi kebetulan saja. Hari itu Rabu 22-03-2006, setelah kuliah, Aku salat jamaah Asar di mesjid Al Falah (masjid UIN). Sebagian mahasiswa memang sudah balik ke rumah, tapi suasana jamaah tetap ramai.

Usai salat, mesjid sunyi, orang-orang bergegas balik ke rumah. Aku murajaah Quran sejenak dan menyetor hapalan pada Ust. Mabrur, Imam mesjid Al Falah. Lantai satu, sudah tak ada orang lagi. Lantai dua, khusus bagi ahwat juga demikian. Tinggal kami berdua dengan Ust Mabrur di masjid.

Usai setor hapalan, Aku pamit Ust. Mabrur tuk balik ke rumah. Dia juga hendak balik. Tak lupa kubantu sang imam mengunci pintu mesjid. Tiba-tiba perutku terasa sakit. ” Aku ke WC dulu ustas, hendak buang hajat” keluhku pada ustas. “Kunci masjid biar aku yang bawa ke rumah ustas” lanjutku.

Usai buang hajat, pandanganku tertuju pada sisi pojok selatan masjid, yang tak jauh dari WC. Seorang mahasiswi berkerudung panjang warna kebiru-biruan, kelihatannya tengah asik membaca buku. Kurang jelas apa yang ia baca. Mukanya menghadap kebelakang, tak kelihatan. “Maaf de’, masjidnya mo dikunci, ada yang bisa aku bantu?” kataku dengan nada sopan. Mukanya pucat dan gugup. Sepertinya sedang sakit atau kehilangan sesuatu. “Sandal saya hilang ka’, jadi lagi tunggu teman yang mo jemput pakai motor” jawabnya dengan nada gugup. “O iya, pakai aja dulu sandal Eiger kakak, nanti aku pinjam sandal di rumah Ust. Mabrur, dekat kok” tawarku.

Sejak kejadian itu, kita sering ketemu dan menjadi kawan baik. Uchi orangnya terbuka. Ia mengaku aku termasuk teman terbaik, yang pernah ia kenal. Uchi bahkan mendaptarkan aku sebagai pengajar TPA Al Ilmu dekat rumahnya.

Masa Orientsai Maba tiba. Untuk sementara, Uchi libur mengajar di TPA, semua jadwalnya aku yang menghandle. Ia harus all time di kampus sejak pukul 8 pagi sampai 10 malam. Terkadang harus bermalam di sekertariat, jika tugas menumpuk.

Sejak orientasi Maba, sesekali saja aku bertemu Uchi. Itupun tak sempat bicara banyak. Kalau ada hal penting, ia menelpon atau sms saja. Aku bisa maklumi, ia bertanggung jawab sekitar 4000-an mahasiswa dan mahasiswi baru, ditambah dengan ratusan panitia Orientasi Maba.

Penutupan Orientasi Maba tiba. Aku diundang Uchi menjadi penceramah pada acara penutupan. Menurutku ini adalah hal terberat yang pernah aku pikul, sejak keluar dari pesantren. sekalipun terbiasa ceramah di masyarakat, tapi aku kurang pe-de ceramah di hadapan sekitar 4000-an mahasiswa. Awalnya aku ragu, tapi kehadiran seorang Uchi, membuatku berani.

Acara penutupan orientasi dimulai setelah salat Asar. Sebelum magrib, aku tiba di kampus. Uchi lansung mengajak ke sekertariat panitia. kebetulan panitia sedang istirahat, persiapan untuk menunaikan salat Magrib berjamaah. Uchi sempat memperkenalkan aku pada panitia, kemudian memberikan arahan-arahan demi kelancaran acara penutupan orientasi Maba.

Azan magrib mengumandang. Hadirnya seakan mengguncang seluruh pojok ruangan. Panitia dan peserta bergegas menuju aula utama. Usai salat, aku menyampaikan ceramah sampai tiba waktu Isya. Sesekali ada peserta yang bertanya. Tak jarang, ada juga yang sekedar usil, bertanya tentang hukum pacaran, jalan bareng dengan cewek bagi ustas, dan masalah-masalah lain yang agaknya sangat sulit kujawab.

Ramah tamah dilanjutkan setelah makan malam. Semua peserta dan panitia berkumpul di halaman utama kampus. Semua larut dalam suasana yang penuh keakraban. Tukar-tukar alamat, nomor hp, atau sekedar berkenalan saja menjadi panorama tersendiri yang sangat disayangkan kalau terlewati. Di sini pulalah aku bisa melihat dengan jelas kewibawaan dan perhatian seorang Uchi. Ia tak sengan menegur senior yang mencoba usil, ia terlihat sangat akrab dengan semua peserta dan panitia.

Seminggu setelah orientasi kampus, aku semakin akrab dengan Uchi. Kami semakin sering ketemu, di kampus dan mesjid Ar Rahman. Dialah sosok yang aku dambakan selama ini. Orangnya ramah, penyayang, pintar, dan yang pasti wataknya membuat banyak lelaki terpesona.

Hari demi hari kami lewati bersama. Tiba-tiba saja, aku merasa hadirnya getaran cinta dalam diri ini. Sebagai teman akrab, kurasa belum cukup. Aku mendambakan lebih dari sekedar teman, yaitu cinta suci hingga ke pelaminan.

Sebenarnya, perasaan hatiku ingin kuungkapkan langsung pada Uchi. Tapi aku merasa selalu saja ada perasaan takut dan khawatir. Khawatir jangan sampai aku cuma bertepuk sebelah dada, perasaanku penuh dengan rasa cinta, tapi ia anggap diri ini hanya sekedar teman biasa. Takut jangan sampai persahabatan ini langgeng, hanya karena ia tidak siap menerima perasaan hatiku padanya.

Rasa cinta dan sayang ini terus kupendam. Bayang-bayang seorang Uchi selalu hadir dalam jiwa. Pertemuan dan percakapan lima jam di kuliah, seolah hanya terasa 10 menit. Begitulah gambaran jiwa yang sedang dilanda asmara. Harus kuakui perasaan cemburu terkadang muncul, bila melihat ia berbicara dengan mahasiswa lain. Tapi, perasaan ini cukup diri ini yang tau. Aku tak berani berterus terang pada Uchi. “Kalau memang jodoh, Uchi takkan ke mana” gumamku dalam hati.

Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang Uchi.

Sosok yang membuat banyak perubahan dalam kehidupanku.

Sosok yang senantiasa hadir dalam setiap mimpi dan sadarku.

Sosok yang menjadi sumber inspirasiku.

Sosok yang menjadi harapan jiwa dan hati ini.

Sosok yang menjadi dambaan bagi anak-anakku kelak.

Sosok yang menjadi pelipur luka dan laraku.

Sosok yang menjadi dambaan teman sehidup dan semati.

Sosok yang mampu mengisi kekosongan cinta dalam jiwa ini.

Sosok yang kuharapkan menjadi pendamping hidup ini.

Sosok yang kuharapkan mejadi teman abadi dalam surga sang Khalik.

Insya Allah…….

Iklan

Aksi

Information

One response

9 10 2008
Winarni K Suprimardani

Wow… segitunya…!
Hehehe… salam buat uchi yah!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: