Kronologis Coto Makassar di Tepi Sungai Nil

11 09 2008

‘Ada buka puasa bersama di baruga KKS, sponsornya Bapak Najib Tabhan Lc. Datangki nah, ada cotonya.

Begitulah pesan singkat (SMS) yang saya terima. Pengirimnya adalah Asrul, teman setingkat di kuliah Ushuluddin Universitas Al Azhar. Ia adalah koordinator bidang pendanaan dan kesejahteraan Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS).

KKS merupakan organisasi yang menampung seluruh pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Sulawesi (Sulawesi Selatan, Barat, Tengah, Utara dan Tenggara). Saat ini, jumlah anggotanya kurang lebih 400 orang, yang tersebar di beberapa Provinsi di Mesir. Tapi Provinsi yang paling banyak mahasiswanya adalah Kairo, ibu kota negara.

Memasuki hari ketujuh Ramadan, KKS mendapat kucuran dana dari Bapak Najib Tabhan Lc., salah seorang penasehat, yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo. Ia adalah putra Barru, yang menetap di Palu, Sulawesi Tengah.

Tradisi makan coto, memang sudah lazim di KKS. Hampir setiap acara besar-besaran, coto selalu saja menjadi makanan favorit. Mungkin karena biayanya yang relatif murah dan bahan-bahannya juga mudah didapat. Di samping itu, makan coto bagi warga KKS, adalah cara melepas rindu pada kampung halaman.

Kali ini yang bertugas menjadi muhandis coto adalah Ismail. Muhandis (yang dalam bahasa Indonesia disebut insinyur) adalah istilah di kalangan anggota KKS, bagi yang mahir membuat coto. Ismail memang terkenal sebagai ahli coto. Konon, nenek moyangnya adalah penjual coto di Makassar . Jadi teknik membuat coto telah lama ia geluti di Makassar .

Sejak pagi, bumbu-bumbu, alat dan bahan-bahan untuk membuat coto, telah diperiksa dengan teliti oleh sang muhandis. Dua rekan lainnya yang bertugas membeli daging, berangkat ke pasar Sayyidah Zaenab pukul 7 pagi. Lama perjalanan menuju Pasar Sayyidah Zaenab sekitar 2 jam, dengan jarak kurang lebih 12 kilometer.

Bawang merah, bawang putih, cabe, jeruk nipis, kacang tanah, jahe, lengkuas, bawang goreng, merica, ketumbar dan kemiri, dibeli di toko rempah-rempah dekat Baruga. Adapun serai, diperoleh melalui teman yang tinggal di asrama mahasis “Buuts”. Biasanya teman-teman Sulawesi yang tinggal di asrama Buuts rajin bercocok tanam.

Tepat pukul 9 pagi, dua mahasiswa yang bertugas membeli daging, Wahyu dan Ashal datang dengan dua bungkusan yang berisi daging sapi, usus, hati, jantung, paru dan limpa. “Sepuluh kilo ji daging yang saya beli”, ucap Wahyu dengan logat Makassarnya, sambil memberikan bungkusan daging kepada Ismail. Daging sapi di Mesir, kebanyakan diimpor dari Brasil. Kualitasnya bagus dan sudah pasti rasanya enak. Biasanya, harganya 20 pound Mesir per kilogram atau setara dengan Rp35.000.

Yang menarik, sejak memasuki bulan Ramadan, permintaan daging (khususnya daging sapi) mengalami peningkatan dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi harganya juga mengalami penurunan atau didiskon. Ini sangat berbeda sekali dengan kondisi negara kita, di mana harga barang-barang malah meroket pada bulan Ramadan.

Setelah daging, bawang merah, bawang putih, cabe, jeruk nipis, dan bahan-bahan lainnya terkumpul, sudah ada 17 orang relawan yang siap membantu Ismail, mengolah bumbu-bumbu dan bahan-bahannya. Delapan orang mengiris-iris daging, empat orang mengiris bawang merah, cabe, jeruk nipis dan bawang putih, dua orang menghaluskan kacang, jahe, lengkuas, kemiri dan serai, yang lainnya membersihkan Baruga.

Tepat pukul 3. 30 sore atau sekitar 2 jam 30 menit sebelum buka puasa, coto buatan Ismail siap untuk dihidangkan. Kuahnya sangat kental dan warnanya agak kecoklatan, baunya juga harum menggoda. Kabarnya, Ismail sengaja memperbanyak kacang dan daun serainya, supaya kuahnya terasa enak.

Dua jam sebelum berbuka, ratusan mangkuk diisi satu persatu dengan lontong, bawang goreng, daun bawang, daging sapi, usus, hati, jantung, paru dan limpa. Adapun jeruk nipis dan cabe, masing-masing disimpan pada piring yang berbeda. Ada juga piring besar yang berisi lontong, yang telah di iris-iris.

Bentuk lontongnya agak berbeda dengan kebanyakan lontong, yang dibuat di Makasar. Bentuknya panjang, bulat dan dibungus dengan plastik, bukan dengan daun. Lontong ini, dibuat sendiri oleh Ismail pada malam hari, sebelum tidur. Jadi tepat pagi hari, lontong-lontong itu telah masak kemudian didinginkan.

Pukul 5 sore, sudah ada sekitar 100 anggota KKS yang berkumpul di Baruga. Ponggawa KKS langsung membuka acara dengan menyampaikan amanat dan informasi seputar kondisi KKS. Acara ini dilanjutkan dengan baca Al Quran bersama, sampai tiba waktu berbuka.

Jarum jam menunjuk tepat pukul 6 sore, ratusan anggota yang hadir segera berbuka dengan air putih, jus buah dan kurma. Coto sendiri, dibagikan setelah salat Magrib berjamaah.

Buka puasa kali ini, dihadiri sekitar 150 orang. Sedangkan persediaan coto sebanyak 250 mangkok. Banyak yang minta tambah atau sekedar menambah kuah. “Enak sekali airnya, nakalah ki cotonya paraikatte, betulangga’!”, ujar Awal, mahasiswa asal Makassar dengan nada bercanda.

Coto buatan Ismail telah mengantar kami, ratusan mahasiswa asal Sulawesi, berbuka sambil mengenang kampung halaman. Ah, nyamanna….(p!)

http://www.panyingkul.com/view.php?id=965&jenis=kabarkita

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: