Proyek Pemikiran dan Filsafat Nietzche

2 09 2008

(Analisa historis dan pemikirannya)

Nietzche, Bapak Modernisme

Nietzche, Bapak Modernisme

Tuhan telah mati….

Jika engkau haus akan kedamain jiwa dan kebahagiaan, percayalah….

Jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, carilah…..

Membuat orang gelisah, itulah tuga saya……

Demikian ungkapan-ungkapan yang akan kita temui ketika membaca tulisan, artikel dan buku-buku Nietzche. Dalam menilai Nietzche, orang akan terlibat dalam kontradiksi yang berkepanjangan. Banyak orang menyebut Nietzche sebagai filsuf yang martil, kontradiktif, extrem dan kritikus. Habermas misalnya, menganggap Nietzche sebagai titik balik kesadaran orang akan rasionalitasnya. sedangkan Heidegger melihat Nietzche sebagai filsuf yang telah mengajukan semua cara bertanya metafisikus. Tapi Bertrand Russel berharap supaya pengaruh filsafat Nietzche berjalan dengan lambat, kalau memang tak bisa dihilangkan.

Nietzche sangat kritis cita-cita akan modernisme. Kepercayaannya akan progress dan rasionalitas ( yang menjadi impian modernisme ) telah ia nafikan. Dia sadar betul bahwa gagasan dan ide-idenya akan ditertawai oleh orang pada zamanya. Dengan begitu, lantas beliau tidak putus asa dan berhenti berkreasi. Setiap detik waktunya digunakan untuk senantiasa mencipta gagasan. Karena ia tidak menulis untuk zamannya melainkan untuk abad berikutnya.

Kalau diteliti sejarah hidupnya, Nietzche layaknya seorang rahib yang senantiasa mengisolasi diri dalam kesunyian dan berkhalwat tapal batas. Dia memang seorang rahib tanpa tuhan. Dia tidak membawa ajaran akan eksistensi ‘ada’. Malah mengganggap setiap bentuk gagasan tentang ‘ada’ merupakan sesuatu yang nihil.

Nietzche seolah filsuf yang sedang kesurupan. Dia mengkritik hampir semua relung-relung kebudayaan barat. Agama yang diagungkan oleh kaum gereja, rasio yang didewakan oleh filsuf dan pemikir serta moral yang menjadi acuan pencari kebenaran menjadi lahan kritik gagasan Nietzche.

Dia berusaha mencabik-cabik semua rajutan konseptual yang dipakai orang untuk melindungi dirinya dari kengerian eksistensial. Ia yakin betul bahwa segala bentuk rajutan konsep dan nilai merupakan penyakit yang membelenggu manusia dalam hidup. Olehnya itu, Nietzche mengajak semua manusia untuk melakukan kajian kembali atas semua ajaran konseptual dan segala bentuk konsep nilai.

Riwayat hidup dan latar belakang pemikirannya

Riwayat hidup Nietzche, dapat dibagi menjadi empat bagian; tahap pertama: diliputi oleh kehidupan keluarga pada masa kecilnya, tahap kedua: memasuki jenjang sekolah sebagai pelajar dan mahasiswa, tahap ketiga: dimana dia berprofesi sebagai propessor, tahap keempat: berpetualangan untuk berobat dan mencari jati diri.

1. Masa Kecilnya Bersama Keluarga

Nietzche lahir di Rocken (Jerman) 15 oktober 1844. Kakeknya Friedrich August Ludwig (1756-1862) pejabat tinggi gereja Lutheran. Posisinya setara dengan rohaniawan katolik pada gereja Roma. Bapaknya Karl Ludwig Nietzche (1813-1849) seorang pendeta di Rocken. Begitu pula dengan ibunya yang setia sebagai penganut kristus. Jadi, boleh dibilang keluarga Nietzche adalah keluarga yang taat pada agama kristen.

Masa kecilnya (ketika masih bersama ayahnya) adalah masa yang paling bahagia dalam hidupnya. Hampir setiap saat senantiasa dalam kebahagian dan kegembiraan. Tapi, kebahagian ini tidak berlanjut lama. Memasuki umurnya tahun keempat, (1849) ayahnya meninggal dunia, setahun kemudian adiknya Joseph meninggal juga. Kini tinggal dia dengan ibunya, kakak perempuan, dua tante dan neneknya. Olehnya itu, masa kecil Nietzche sudah dipenuhi beban yang sangat berat.

2. Sebagai Pelajar dan Mahasiswa.

Pada usia enam tahun, dia memasuki sekolah Gymnasium. Nietzche termasuk anak yang cerdas dan pandai bergaul, sehingga cepat menjalin persahabatan dengan teman-temannya.

Pada usia empat belas tahun nietzche pindah sekolah di Pforta. Sekolah ini cukup keras dan ketat. Agenda disusun sedemikian sehingga hampir tak ada waktu yang luang untuk sekedar bersantai. Selama di Pforta Nietzche belajar bahasa yunani dan latin. Dia juga masih belajar bahasa ibrani untuk merealisasikan kemauan ibu dan keluarganya sebagai seorang pendeta. Namun Nietzche mengakui tak dapat menguasai bahasa ibrani sehingga sulit baginya menjadi seorang pendeta.

Di Pforta inilah Nietzche mulai kagum dan berkenalan dengan berbagai macam karya ilmiah yunani klasik. Dia bahkan membuat kelompok diskusi khusus untuk membahas artikel-artikel, tulisan, puisi dan buku-buku yunani.

Tahun-tahun terakhir di Pforta, sikap jalangnya sudah mulai muncul. Dalam tulisannya ‘tanpa kampung halaman’ ia mengungkapkan gejolak hatinya yang ingin bebas dan mita dipahami. Bersamaan itu, dia mulai skeptis terhadap dirinya, bahkan skeptis terhadap kebenaran semua ajaran agama.

Umur dua puluh tahun Nietzche melanjutkan study di universitas Bonn. Dia mendalami bidang Filologi dan Teologi. Tetapi, setahun kemudian dia memutuskan utuk berhenti belajar teologi. Dalam filologi Nietzche diajar oleh Friedrich Ritschl. Ritschl inilah yang banyak membantu kerangka cara berpikir Nietzche kemudian.

Di Bonn, Nietzche hanya mampu bertahan dua semester, ia lalu pindah ke Leipzig. Disinilah nietzche amat akrab dengan Ritschl.

3. Profesi Sebagai Propessor di Basel

Atas rekomendasi Ritchl, tahun 1869 Nietzche menjadi dosen Filologi di Basel, Swiss. Waktu itu dia belum bergelar doktor. Sebulan kemudian barulah dia mendapatkan gelar doktor tanpa ujian dan formalitas apapun.

Di Basel, Nietzche mulai bergaul dengan musikus jerman Richard Wagner (sorang musikus yang terkenal). Wagner adalah seorang pengagum Scopenhaur sebagiamana halnya Nietzche. Dalam musik Wagner, Nietzche melihat adanya semangat kebudayaan yunani.

Masa di Basel adalah masa produktif bagi Nietzche. Dia menghasilkan karya-karya terbaiknya. Buku the birth of tragedi out of the spirit of music (lahirnya tragedi dari semangat musik) terbit tahun 1872. Setahun kemudian, buku tentang yunani dan untimely meditation (permenungan yang terlalu awal)[1] juga terbit.

Nietzche sempat mengajar selama sepuluh tahun di Basel, 1869-1879. Selain mengajar di universitas, dia juga mengajar di SMA. Semasa di Basel, dia bahkan berkali-kali harus cuti karena kesehatannya yang buruk. Akhirnya pada 1879 dia berhenti mengajar karena penyakitnya yang semakin parah.

4. Berpetualangan Untuk Berobat dan Mencari Jati Diri

Sejak meninggalkan Basel, dia senantiasa berkhalwat, menyendiri dan menghindari hal-hal yang menyangkut tanggung jawab sosial. Hidupnya senantiasa berpindah-pindah di beberapa kota di Italia dan Swiss.

Masa ini adalah masa kritis bagi Nietzche, ditandai dengan sakit jiwa yang menjangkitinya tahun 1889. Tapi ini tak mengahalanginya untuk senantiasa berpikir dan merenung untuk menghasilkan karya. Tahun 1881 berhasil menerbitkan bukunya ‘Fajar, gagasan-gagasan tentang pranggapan moral’[2]. Setahun kemudian terbit ‘Ilmu yang Mengasikkan’[3]. Tahun 1885 berhasil menerbitkan karya terbesarnya ‘ demikianlah sabda sarahustra’. Diantara buku-buku yang diterbitkan Nietzche pada fase ini adalah: Di Seberang Baik dan Jahat. Pengantar Untuk Filsafat Masa Depan tahun 1886, Kritik Akan Modernitas, Ilmu Pengetahuan Modern, Seni Modern dan Tentang Asal Usul Moral. Suatu Polemic tahun 1887, Kasus Wagner. Persoalan Musikus tahun 1888.

Tahun 1889 -1900 adalah masa paling tragis dalam diri Nietzche. Dia menderita sakit jiwa, sampai lupa akan semua yang telah diingatnya dan tidak bisa lagi berpikir. Nietzche meninggal di Weimar 25 agustus 1900.

Metode penulisan Nietzche

Hampir semua buku Nietzche tidak ditulis secara sistematis. Dia menulis buku dengan gaya aforisme. Satu aforisme terdiri dari beberapa kalimat atau paragraf. Bahkan bisa jadi cuma terdiri dari satu kalimat. Satu aforisme ini merupakan gagasan yang utuh, tak terkait dengan aforisme sebelum dan sesudahnya.

Dalam menulis buku, Nietzche menggunakan metode versuch yang menolak setiap bentuk system. Baginya system merupakan penjara. Karena sistematika dalam dirinya tidak dapat menetapkan kebenaran premis-premisnya. Dengan begitu setidaknya dia tidak terbelenggu dalam suatu dekadensi.

Gagasan dan Pemikiran Nietzche

1.Nihilisme

Tema dasar pemikiran Nietzche adalah sebuah ambisi untuk mengadakan penelitian dan kritik tentang nilai. Dia menggangap hilangnya semua nilai yang menjadi rajutan konseptual hampir semua orang. Dia mempunyai proyek nihilisme terhadap semua nilai. Tidak ada nilai absolute dan mutlak dalam hidup ini. Semuanya nihil dan tak bermakna.

Nihilisme berarti runtuhnya seluruh nilai dan makna yang meliputi semua bidang kehidupan manusia.

Diantara nilai yang menjadi sasaran kritik Nietzche adalah, semua nilai yang berkaitan erat dengan unsure keagamaan (termasuk) moral dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, Nietzche mengehendaki adanya perubahan subtansi nilai moral menjadi nilai seni. Artinya penilaian atas moral harus memakai kaca mata seni. Di sini Nietche melihat urgenrnya nilai seni dalam menentukan pola pikir seseorang, dalam interaksi sehari-hari.

Nietzche sangat mengkritik filsuf Emanuel Kant dan Hegel yang mengakui adanya kemutlakan nilai moral. Bahkan dia memperingatkan orang, supaya tidak dihegemoni oleh ajaran Kant dan Hegel, yang menjanjikan kebenaran akan moralitas. Karena dengan mengakui eksistensi pemikiran Kant dan Hegel, akan membawa kepada suatu dekadensi.

Bahkan, Nietzche juga mengkritik moralitas produksi agama. Baginya, penganut moral ini, adalah orang yang gagal mempertanyakan premis dasarnya dan pesimis terhadap dirinya. Bahkan rela menyerahkan filsafatnya pada agama. Olehnya itu, dia menyelidiki moral dengan nilai-nilai seni menjadi pirantinya.

Penghayatan hidup melalui jalur seni merupakan jawaban Nietzche guna membebaskan manusia dari kungkungan moral. Pendekatan moral dikritiknya jika dilandasi dengan nilai-nilai hukum yang universal dan absolute.

Dalam ilmu pengetahuan, Nietzche mengkritik tokoh modernisme yang terlalu mengagung-agungkan rasio. Bagi Nietzche, cita-cita modernisme akan progress, hanya bergerak pada tempatnya sendiri, tanpa adanya perkembangan yang signifikan. Ini disebabkan karena pelaku modernisme terkontaminasi oleh suatu bentuk system yang mengikat dirinya. Olehnya itu, apa yang menjadi impian modernisme, dianggap sebagai sesuatu yang nihil dan tak bermakna.

Dengan adanya proyek nihilisme nilai, maka manusia harus bebas dari segala makna absolute. Manusia harus menciptakan kehidupannya sendiri dan memberikan penilaian terhadapnya.

Jadi Nihlisme adalah suatu kemestian bagi Nietzche. Sekalipun demikian kalau nihilisme merupakan perkembangan yang mesti terjadi, maka apa yang harus dilakukan manusia untuk keluar dari krisis nihilisme ini?

Dalam hal ini Nietzche menolak sikap fakum terhadap nihilisme. Baginya harus ada tendensi untuk keluar dari krisis ini. Alternative yang diajukan Nietzche adalah dengan mengadakan pembalikan nilai-nilai. Mengadakan penilaian kembali seluruh nilai-nilai yang sudah ada sampai sekarang.

Dengan cara ini, Nietzche tidak bermaksud mencari niai itu sendiri karena ini dianggap sebagai semangat kuno yang harus ditinggalkan. Dia lebih suka mencari cara untuk berkata ya pada dunia yang penuh nihil tanpa adanya nilai mutlak atau tata dunia moral.

Nietzche tidak mau mencari daratan sebagai tempat tinggal, dia lebih memilih sampan kecil untuk mengarungi samudra raya supaya dapat menikmati kebebasan dan ketak bertasan.

Dia memandang nilai tak lebih daripada titik berangkat dari suatu pengembaraan. Terkadang kita butuh kepada nilai namun terkadang pula harus melepaskan nilai itu. Demikian sikap Nietzche terhadap kebenaran. Kebenaran adalah semacam kekeliruan yang tanpanya kita tak dapat hidup.

2. Kehendak Untuk Berkuasa

Gagasan tentang kehendak untuk berkuasa adalah calon opus magnumnya Nietzche yang tak sempat terselesaikan. Gagasan ini merupakan saripati dari seluruh pertualangan pemikirannya. Jadi kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam.

Menurut Kaufman[4], karena karya ilmiah Nietzche yang tidak terikat oleh suatu system, maka dia menggunakan istilah ini secara berbeda-beda. Mula-mula dia memaksudkan kehendak untuk berkuasa sebagai prinsip untuk menerangkan perilaku. Khususnya prilaku yang tidak disukainya.

Kemudian istilah ini dipakai untuk menerangkan dorongan-dorongan hidup orang-orang yunani kuno, sehingga mampu menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Baru pada akhir hayatnya kehendak untuk berkuasa diterankan secara filosofis.

Kehendak untuk berkuasa; apakah provokasi politik?

Banyak kalangan menilai bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan gagasan hipotesa politik Nietzche. Dikuatkan dengan arguman bahwa Elizabeth, saudarinya, yang menemani Nietzche beberapa tahun, telah terlibat dunia politik ketika suaminya masih hidup. Olehnya itu Elizabeth ingin melanjutkan cita-cita suaminya sebagai politikus.

Tapi, kalau dicermati dari tulisan-tulisan Nietzche, penilaian ini dianggap keliru. Karena sejak awal, Nietzche tidak pernah memperlihatkan diri sebagai seorang filsuf social atau filsuf politik.

Jadi kehendak untuk berkuasa tidak dimaksudkan sebagai provokasi politik dalam urusan kenegaraan. Karena sikap Nietzche sendiri sejak awal yang sangat mengkritik metode Negara. Negara bagi Nietzche merupakan penjara dan penghambat kebebasan manusia untuk berkreasi.

Kehendaka untuk berkuasa sendiri merupakan hakekat dari dunia, hidup dan ada. Gagasan ini adala prinsip untuk menjelaskan dunia, cara melihat dan memandang dunia, hidup dan ada.


[1] Terdiri dari empat bagian. Bagian pertama ‘David Strauss, Pengaku Iman dan Penulis’ terbit 1873. Dua bagian berikutnya terbit 1874. Bagian terkhir terbit 1876

[2] Dengan buku ini Nietzche bermaksud mengawali perang dengan moral

[3] Di dalamnya ia memproklamirkan tuhan telah mati

[4] Kaufman peneliti karya-karya Nietzche, 1974, 178-207

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: