Oleh: syahrulhs | Agustus 31, 2008

Ramadan di Kairo

Ramadan di Kairo memiliki corak tersendiri yang sedikit berbeda dengan negara-negara lain. Jauh hari sebelum datangnya bulan puasa, pasar-pasar ramai dengan aneka ragam makanan, minuman, perlengkapan ibadah dan mainan yang dijajakan khusus dalam bulan Ramadan. Selain itu, sebelum hari pertama tiba, ibu-ibu Mesir ramai berbelanja rempah-rempah makanan, beriringan dengan munculnya toko-toko alternatif yang mudah dijumpai di pinggir jalan.

Ada kebiasaan khas orang Mesir dalam menyambut Ramadan, yaitu berbondong-bondong membeli Fanus, yaitu lampu ala timur tengah, mirip lampu aladin di filmnya. Fanus yang dipasang di rumah masing-masing ini dijual dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Kini ada pula fanus yang menggunakan energi baterai, diperuntukkan untuk anak-anak. Mereka membawanya saat berangkat salat tarawih. Hal yang menarik adalah, meskipun fanus tetap tersedia di toko di luar Ramadan, namun hanya saat Ramadanlah masyarakat berbondong-bondong membelinya. Karena itu pula, hampir semua toko yang meski sebelum Ramadan tidak berminat menjual fanus, akhirnya turut menyediakan barang ini di toko mereka.

Menurut Ammu Ahmad, pemilik toko dekat rumah tempat saya belanja sehari-hari, menjelang dan saat bulan Ramadan, ia mengaku mendapatkan keuntungan hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. “Alhamdulillah, permintaan fanus di bulan puasa bertambah hampir tiga kali lipat,” katanya sambil menghadiahkan fanus kecil kepada saya. Toko milik Ammu Ahmad menyerupai supermarket, menyediakan barang-barang keperluan sehari-hari seperti beras, telur, mie instan, ataupun kue-kue.


Toko Ammu Ahmad, turut menjual Fanus. Foto : Syahrul Sultan.

“Kullu dah min sin,” ucap Ammu Ahmad dengan bahasa ammiyah Mesir, sambil menunjuk beberapa fanus, menjelaskan bahwa fanus-fanus yang tadi ditunjuk oleh Ammu Ahmad merupakan barang impor dari Cina. Menurutnya, kebanyakan fanus di Mesir berasal dari Cina, meskipun ada juga produk dalam negeri. Biasanya, fanus Cina harganya jauh lebih murah, tapi kurang berkualitas dibanding produk dalam negeri. Orang-orang umumnya lebih menggemari fanus-fanus dari Cina, karena dipakai hanya untuk sementara saja, yaitu selama Ramadan berlangsung.

Selain Fanus, ada lagi kekhasan lain yang mewarnai Ramadan di Kairo, yaitu Maidatur Rahman, yaitu tempat khusus yang dibuat dari beberapa tenda dan bentuknya tertutup karena pintu masuk hanya terdiri dari satu arah saja. Maidatur Rahman dibangun untuk melayani orang-orang yang berpuasa selama bulan Ramadan.

Biasanya, orang-orang kaya Mesir memberikan dana kepada perorangan ataupun yayasan tertentu untuk membuat Maidatur Rahman tersebut. Bagi yang memiliki banyak dana, membangun tempat yang lebih besar dan bisa menampung ratusan orang adalah target mereka. Namun, ada pula yang mendirikan tenda sederhana berkapasitas hanya puluhan orang.


Maidatur Rahman, tempat berbuka gratis. Foto : Syahrul Sultan.

Memilih Maidatur Rahman, juga menjadi perhatian khusus bagi mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang belajar di Mesir, khususnya di Kairo ini, karena menu makanan yang disediakan di setiap tempat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jadi, mahasiswa tinggal memilih menu apa yang menjadi kesukaan mereka. Mulai dari ikan bakar, ayam, daging dan sebagainya dapat dinikmati di Maidatur Rahman, tanpa harus mengeluarkan kocek alias gratis. Terkadang ada yang sengaja buka puasa keliling di kota Kairo selama bulan Ramadan untuk mengetahui Maidatur Rahman mana yang memiliki menu paling spesial. Hasil ’penelitian’ ini akan digunakan lagi pada bulan Ramadan tahun depan.

Ramadan juga, biasanya menjadi bulan ‘panen’ bagi mahasiswa asin. Panen adalah istilah mahasiswa, karena banyaknya bantuan dari penduduk Mesir untuk mahasiswa. Pada bulan ini, biasanya banyak sekali dermawan yang memberikan sumbangan, baik yang berupa uang ataupun sekedar bahan makanan. Datangnya tiba-tiba di mana saja. Seakan-akan mereka, para dermawan, tak mau ketinggalan untuk senantiasa memperbanyak amal dan ibadah selama Ramadhan.


Maidatur Rahman di malam hari. Foto : Syahrul Sultan.

Ramadan di Mesir sangat terasa hadirnya. Pada malam hari, mesjid tak pernah kosong dengan kegiatan ibadah. Bahkan setelah salat Magrib, kegitan terus berlanjut hingga salat subuh tiba.Biasanya para jamaah berbuka dengan tiga biji kurma dan segelas air putih atau teh. Setelah itu melakukan salat Magrib berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan makan makanan berat seperti nasi dan kue-kue. Sambil menikmati makanan, para jamaah disuguhi dengan siraman rohani oleh muballiq-mubaliq terkenal. Tapi bagi orang yang memilih buka puasa di rumah masing-masing, pemandangan seperti ini tentu tak mereka rasakan.

Aktifitas warga yang berbau duniawi seakan sepi, dengan dikumandangkannya azan Isya. Masyarakat yang tadinya tidak sempat berbuka di mesjid atau yang buka puasa di rumah dan di jalan-jalan, berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan salat Isya. Mereka tak mau ketinggalan salat isya dan tarawih berjamaah, yang durasi waktunya hampir empat jam. Kebanyakan mesjid di Mesir memilih salat tarawih yang berjumlah delapan rakaat. Namun, tak sedikit mesjid yang memilih 20 rakaat. Setiap malam, imam salat tarawih membaca satu juz surah dalam Alquran. Jadi selama sebulan, 30 juz atau satu alquran penuh, dapat kita dengarkan dari mulut sang imam.

Setelah salat tarawih, bagi yang masih mampu dan tahan beribadah, memilih untuk melanjutkan salat tahajjud dan witir berjamaah hingga tiba waktu subuh. Pada Asyarah Awahir Ramahan (sepuluh terakhir Ramadan), puluhan hingga ratusan jamaah memenuhi mesjid-mesjid, hanya untuk yang melakukan ibadah. Mulai dari dari salat wajib, salat sunnah, pengajian, baca qur’an dan zikir bersama. Semua ini, seakan menjadi aktifitas yang menarik dan membanggakan bagi orang-orang yang tua, anak muda dan anak-anak.

Pada Asyarah Awahir Ramahan juga, orang berbondong-bondong untuk beri’tikaf di mesjid. I’tikaf adalah bermalam dan menghabiskan waktu di mesjid selama bulan ramadhan. Ada yang bermalam sehari, dua hari sampai sepuluh hari, tanpa pernah balik ke rumah. Mereka seakan tak mau absen dalam beribadah ramadhan walau sedetik. Olehnya itu, sebelum I’tikaf mereka sudah menyediakan seluruh keperluan yang akan dipergunakan nanti.

http://www.panyingkul.com/view.php?id=956&jenis=kabarkita


Beri tanggapan

Your response:

Kategori