Oleh: syahrulhs | Agustus 31, 2008

Ke Kairo, Kutemukan Coto

Makan coto di Makassar atau beberapa kota di Indonesia, tidaklah aneh bagi saya. Tapi jika makan coto di luar negeri, apalagi di daerah Arab (baca:Mesir) adalah sesuatu yang langka dan tentunya amat istimewa. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali berkunjung ke Baruga KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi).

Sejak tiba di kota Kairo, Mesir lima bulan yang lalu, saya belum pernah berkunjung ke Baruga KKS, tempat berkumpulnya mahasiswa yang berasal dari Sulawesi. Kebetulan waktu ujian yang semakin dekat, jadi saya hanya sempat bertemu dan bekenalan dengan beberapa senior yang biasa menjadi pembimbing dalam belajar.

Sekedar perkenalan diri. Nama saya Lukman. Bone adalah tempat kelahiran saya, tepatnya di kecamatan Bengo (dulu kec. Lapariaja). Bapak saya asli Bone, tapi Ibu berdarah Soppeng, yang sekarang tinggal bersama Bapak di Bone. Masa kecil, saya habiskan di Bone sampai tamat SD. Setelah itu melanjutkan pendidikan SMP/MTS dan SMA/MA di Makassar. Tepatnya MTS Pesantren Pondok Madinah di jalan Perintis Kemerdekaan, samping STIMIK Depanegara dan MAN di MAKN samping Kawasan Industri Makassar (KIMA) km 15 Daya.

Setelah menyelesaikan MAN, saya mendapat kesempatan kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Inilah impian saya sejak kecil. Dan akhirnya impian itu menjadi suatu kenyataan. Saya dan teman-teman yang berjumlah lima orang, berangkat ke Kairo tanggal 28 Oktober 2007. Ditemani oleh seorang senior, namanya Ahmad yang sudah lima tahun tinggal di Kairo. Kami meninggalkan bandara Hasanuddin Makassar menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Cuma transit sekitar 5 jam di bandara Jakarta, kami melanjutkan perjalanan menuju Kairo. Tepatnya jam 17.00 sore waktu Jakarta. Inilah perjalan jarak jauh saya yang pertama.

Sampai di Kairo, kami langsung menuju apartemen (flat) yang telah disewa oleh senior. “Inilah rumah kalian selama menuntut ilmu disini” kata Ahmad dengan muka yang ceria. “Jadi kalian di sini tinggal berenam dengan Ridwan” Lanjutnya. Ridwan adalah kakak kelas saya ketika di MAKN, jadi kami sudah saling mengenal.

Apartemen Alternatif Bagi Mahasiswa.

Apartemen Alternatif Bagi Mahasiswa.

Bulan November-Desember kami langsung aktip dalam perkuliahan. Jadi keinginan untuk jalan-jalan, hampir tak pernah terlintas dalam pikiran, yang ada cuma bagaimana agar bisa mengejar target belajar sehingga dapat lulus dengan hasil yang memuaskan. Itu pula yang menjadi alasan sehingga, tidak ada kesempatan berkunjung ke Baruga KKS. Baruga KKS sendiri tempatnya lumayan dekat dengan apartemen kami. Tapi harus di tempuh dengan berjalan kaki. Sehingga terasa agak jauh. Jarak apartemen kami dengan Baruga KKS hanya sekitara 3 km, sedangkan jarak menuju tempat perkuliahan, kira-kira 9 km, atau kurang lebih 30 menit ditempuh dengan mengendarai mobil bis.

Bulan Januari adalah musim ujian yang telah ditetapkan oleh pihak universitas. Pada bulan ini, semua kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa diliburkan, bahkan menurut Angga, bulan Desember kegiatan ekstrakurikuler di beberapa organisasi kemahasiswaan sudah ditutup. Semua fokus untuk mengahadapi ujian Term Pertama.

Setelah Januari berlalu, kami dan teman-teman serumah mengahabiskan waktu selama sebulan lebih untuk refresing sambil mengunjungi beberapa tempat wisata dan bersejarah yang ada di Kairo dan sekitarnya. Alexandria, Pyramida, makam Imam Syafi’i, Mesjid dan makam Huzain bin Ali, makam nabi Danial dan Lukman Hakim, Bukit Sinai (tempat Nabi Musa menerima Wahyu), Musium Fir’aun dan beberapa tempat wisata lainnya, adalah tujuan wisata kami selama sebulan lebih. Mesir memiliki berjuta-juta peninggalan bersejarah yang sangat dikagumi oleh seluruh dunia. Begitulah kira-kira yang terbetik dalam benak saya, setelah mengunjungi beberapa tempat tersebut. Pokoknya bulan Februari 2008 bagi saya dan teman-teman adalah bulan wisata.

Bulan Maret tak kalah menariknya dengan bulan-bulan sebelumnya. Saya bisa kumpul bareng dengan teman-teman yang berasal dari Sulawesi di Baruga KKS. “Di sini kita punya KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi)” kata Baso, Ponggawa KKS. “Jadi disini (baca:KKS) semua orang Sulawesi kumpul dan bergabung. Sulawesi Selatan, Barat, Tengah, Utara dan Tenggara semua tergabung dalam Organisasi KKS” lanjutnya sambil menyodorkan kurma kepada kami, mahasiswa baru.

Suasana KKS Kairo, Mesir

Suasana KKS Kairo, Mesir

Ternyata hari ini adalah hari Tudang Sipulung yang diadakan oleh pihak pengurus KKS dengan mahasiswa baru dan senior-senior yang lama. Tudang Sipulung ini juga dijadikan sebagai wahana perkenalan dengan mahasiswa baru, sekaligus sebagai bahan evaluasi program kerja pengurus dan merancang program kedepannya.

Acara ini dimulai setelah Salat Magrib berjamaah di Baruga Sulawesi, yaitu pukul 18.00 sampai jam 23.00 malam. Puncak acara bagi saya, adalah makan coto bersama dengan seluruh anggota KKS. Sempat teringat dalam benak saya, coto Paraikatte yang ada di jalan Pettarani, tempat mangkal sambil makan coto, sewaktu masih di Makassar. Coto yang dihidangkan di KKS tak kalah enaknya dengan cotonya Paraikatte Makassar. Bahkan saya merasa seakan berada di salah satu pojok Paraikatte ketika menghirup air coto ala Kairo ini. “Terasa sekali kacangnya dan bumbunya, enak sekali..” ungkap Agus serumah saya. “Coto ini dibuat oleh Jumed” jelas Ketua KKS. Jumed sendiri adalah salah seorang senior KKS yang sudah berpengalamn dalam dunia masak memasak. Konon kabarnya, dia adalah keturunan pembuat coto di Makassar. Ongkos dia ke kairo saja merupakan hasil jerih payah orang tuanya yang berjualan coto di makassar. Saya bahkan sempat bincang-bincang dengan Jumed. Bincang tentang asal usul hingga resep-resep memasak, tak ketinggalan resep membuat coto. Jumed adalah mahasiswa tingkat akhir yang akan segera menyelesaikan kuliahnya di Al-Azhar. Jadi, disamping jago membuat coto, dia juga jago dalam bidang akademis.

Adapun jenis daging yang biasa dijadikan coto di sini, ternyata dapat diperoleh dengan mudah di pasar-pasar tradisional Mesir, dan harganya relative murah. Konon daging sapi itu di import dari negara Brasil. “Jadi mungkin ini yang membuat coto Jumed terasa enak” cetusku dalam hati. Saya bahkan sempat memesan semangkuk lagi, yang berisi daging campur hati dan usus. Kalau rempah coto itu sendiri, didapat melalui teman-teman yang datang berlibur dari Indonesia. “Bumbunya mudahji di dapat, karena banyak ji teman yang biasa pulang ke makassar, jadi tinggal pesanji” terang Jumed dengan logat Makassarnya. Saya sempat teringat dengan kak Ahmad sewaktu di bandara Hasanuddin, sebelum berangkat ke Jakarta, beliau sempat mengecek laos, ketumbar, jintan, dan daun salam yang diselipkan di tas saya, yang kebetulan agak sedikit longgar. Ternyata bahan-bahan itu adalah titipan buat jumed.

Ada sedikit perbedaan dalam menghidangkan coto di Kairo dan Makassar. Kalau biasanya coto dihidangkan dengan mangkok kecil khusus dan ditemani dengan lontong. Coto di kairo dihidangkan dengan mangkok yang terbuat dari plastic dan lontongnya juga di bungkus dengan plastic. Tapi bicanya soal rasa, tentu juga tak kalah dengan coto yang pernah saya makan di Makassar. Bahkan ada nilai plus makan coto di Kairo, yaitu makan bareng dengan putra daerah sulawesi sekitar 400-an orang yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Pemandangan yang sungguh luar biasa. “Belum pernah saya makan coto seramai ini” cetusku dalam hati. Bahkan seakan kita saling akrab dan mengenal dengan beberapa senior, walaupun baru bertemu.

Mangkok Coto yang Terbuat Dari Plastik

Mangkok Coto yang Terbuat Dari Plastik

Acara tudang sipulung ini juga tak kulewatkan untuk saling berkenalan dengan mahasiswa yang berasal dari sulawesi, khususnya dari Bone dan Makassar. Karena dari kedua kota ini, tersimpan sejuta kenangan yang begitu indah untuk dikenang.

NB; tulisan ini merupakan pengalaman pribadi salah seorang juniorku.

-Nama yang penulis gunakan, bukanlah nama asli. Tapi nama sapaan belaka.


Tanggapan

  1. Jelek bnget tulisanmu boncu

  2. Makasih, namanya aja pemulah. masa ada orang belajar langsung pinter..BTW mn wordpress mu

  3. lumayan buat penulis pemula…………..,,,,, jenis tulisan ini apa sih …… ini Cerpen atau Puisi atau Sekalian Feature…..

    Tokohnya kok Beda ?

    Bravo tuk Ketua OSIS Sekolah Menulis KKS

  4. Itu jenis Feature.
    Tokohnya kok Beda ?
    Ini adalah pengalaman Juniorku
    BTW Mn worpreessmu

  5. jangan berharap tulisan pak boncu akan “berjenis”, apalagi sistematis.boncu ‘kan pengikut nietzche.nietzche itu sangat anti sistem.bagi nietzche, sistem itu hanya belenggu dan penjara kretivitas.

    terus, kok masih ada orang yang menilai sebuah tulisan dengan standard-standard yang begitu kaku?!kenapa sebuah tulisan harus memiliki “jenis” atau genre?apakah dengan masuknya sebuah tulisan dalam kategori atau jenis tertentu, bisa menjadi jaminan kualitas?jawabannya, tentu tidak!

  6. saya setuju kita bebas menulis apa saja, jangan dipasung oleh system. namun kayaknya kita harus realistis melihat era skarang. kayaknya agak sulit berinteraksi sosial tanpa adanya system.singkatnya gini aja mas, orang maen bola yg bagus pake tehnik/sistem ato nga sama sekali?

  7. The Saying of Ali Ibne Abi Talib kw

    Trust ALLAH in your affair
    Be first in greetings
    Be humble in respecting others
    Refrain from backbiting
    Be cheerful to your wife
    Be moderate in your living
    Be respectful to your guest
    Be helpful to the oppressed
    Sacrifice to the needy
    Be helpful in the holly war
    Try to be sincere
    Be kind to orphans
    Donate for good cause
    Be thankful to ALLAH for His blessings
    Limit the lust
    Be polite to the ignorance
    Refrain from pride
    Be symphatetic to the foreigner
    Be kind to people
    Be against to your egoism
    Do not be a misser
    Associate with good people
    Be polite in your speech
    Delay in taking revenge
    Forgive while in power
    Persist in your prayer
    Think before replying
    Fullfil your promise
    Make haste in doing good
    Visit the sick
    Be patient in calamity
    Be stable in your work
    Ponder in the affairs


Beri tanggapan

Your response:

Kategori