Makan coto di Makassar atau beberapa kota di Indonesia, tidaklah aneh bagi saya. Tapi jika makan coto di luar negeri, apalagi di daerah Arab (baca:Mesir) adalah sesuatu yang langka dan tentunya amat istimewa. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali berkunjung ke Baruga KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi).
Sejak tiba di kota Kairo, Mesir lima bulan yang lalu, saya belum pernah berkunjung ke Baruga KKS, tempat berkumpulnya mahasiswa yang berasal dari Sulawesi. Kebetulan waktu ujian yang semakin dekat, jadi saya hanya sempat bertemu dan bekenalan dengan beberapa senior yang biasa menjadi pembimbing dalam belajar.
Sekedar perkenalan diri. Nama saya Lukman. Bone adalah tempat kelahiran saya, tepatnya di kecamatan Bengo (dulu kec. Lapariaja). Bapak saya asli Bone, tapi Ibu berdarah Soppeng, yang sekarang tinggal bersama Bapak di Bone. Masa kecil, saya habiskan di Bone sampai tamat SD. Setelah itu melanjutkan pendidikan SMP/MTS dan SMA/MA di Makassar. Tepatnya MTS Pesantren Pondok Madinah di jalan Perintis Kemerdekaan, samping STIMIK Depanegara dan MAN di MAKN samping Kawasan Industri Makassar (KIMA) km 15 Daya.
Setelah menyelesaikan MAN, saya mendapat kesempatan kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Inilah impian saya sejak kecil. Dan akhirnya impian itu menjadi suatu kenyataan. Saya dan teman-teman yang berjumlah lima orang, berangkat ke Kairo tanggal 28 Oktober 2007. Ditemani oleh seorang senior, namanya Ahmad yang sudah lima tahun tinggal di Kairo. Kami meninggalkan bandara Hasanuddin Makassar menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Cuma transit sekitar 5 jam di bandara Jakarta, kami melanjutkan perjalanan menuju Kairo. Tepatnya jam 17.00 sore waktu Jakarta. Inilah perjalan jarak jauh saya yang pertama.
Sampai di Kairo, kami langsung menuju apartemen (flat) yang telah disewa oleh senior. “Inilah rumah kalian selama menuntut ilmu disini” kata Ahmad dengan muka yang ceria. “Jadi kalian di sini tinggal berenam dengan Ridwan” Lanjutnya. Ridwan adalah kakak kelas saya ketika di MAKN, jadi kami sudah saling mengenal.
Bulan November-Desember kami langsung aktip dalam perkuliahan. Jadi keinginan untuk jalan-jalan, hampir tak pernah terlintas dalam pikiran, yang ada cuma bagaimana agar bisa mengejar target belajar sehingga dapat lulus dengan hasil yang memuaskan. Itu pula yang menjadi alasan sehingga, tidak ada kesempatan berkunjung ke Baruga KKS. Baruga KKS sendiri tempatnya lumayan dekat dengan apartemen kami. Tapi harus di tempuh dengan berjalan kaki. Sehingga terasa agak jauh. Jarak apartemen kami dengan Baruga KKS hanya sekitara 3 km, sedangkan jarak menuju tempat perkuliahan, kira-kira 9 km, atau kurang lebih 30 menit ditempuh dengan mengendarai mobil bis.
Bulan Januari adalah musim ujian yang telah ditetapkan oleh pihak universitas. Pada bulan ini, semua kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa diliburkan, bahkan menurut Angga, bulan Desember kegiatan ekstrakurikuler di beberapa organisasi kemahasiswaan sudah ditutup. Semua fokus untuk mengahadapi ujian Term Pertama.
Setelah Januari berlalu, kami dan teman-teman serumah mengahabiskan waktu selama sebulan lebih untuk refresing sambil mengunjungi beberapa tempat wisata dan bersejarah yang ada di Kairo dan sekitarnya. Alexandria, Pyramida, makam Imam Syafi’i, Mesjid dan makam Huzain bin Ali, makam nabi Danial dan Lukman Hakim, Bukit Sinai (tempat Nabi Musa menerima Wahyu), Musium Fir’aun dan beberapa tempat wisata lainnya, adalah tujuan wisata kami selama sebulan lebih. Mesir memiliki berjuta-juta peninggalan bersejarah yang sangat dikagumi oleh seluruh dunia. Begitulah kira-kira yang terbetik dalam benak saya, setelah mengunjungi beberapa tempat tersebut. Pokoknya bulan Februari 2008 bagi saya dan teman-teman adalah bulan wisata.
Bulan Maret tak kalah menariknya dengan bulan-bulan sebelumnya. Saya bisa kumpul bareng dengan teman-teman yang berasal dari Sulawesi di Baruga KKS. “Di sini kita punya KKS (Kerukunan Keluarga Sulawesi)” kata Baso, Ponggawa KKS. “Jadi disini (baca:KKS) semua orang Sulawesi kumpul dan bergabung. Sulawesi Selatan, Barat, Tengah, Utara dan Tenggara semua tergabung dalam Organisasi KKS” lanjutnya sambil menyodorkan kurma kepada kami, mahasiswa baru.
Ternyata hari ini adalah hari Tudang Sipulung yang diadakan oleh pihak pengurus KKS dengan mahasiswa baru dan senior-senior yang lama. Tudang Sipulung ini juga dijadikan sebagai wahana perkenalan dengan mahasiswa baru, sekaligus sebagai bahan evaluasi program kerja pengurus dan merancang program kedepannya.
Acara ini dimulai setelah Salat Magrib berjamaah di Baruga Sulawesi, yaitu pukul 18.00 sampai jam 23.00 malam. Puncak acara bagi saya, adalah makan coto bersama dengan seluruh anggota KKS. Sempat teringat dalam benak saya, coto Paraikatte yang ada di jalan Pettarani, tempat mangkal sambil makan coto, sewaktu masih di Makassar. Coto yang dihidangkan di KKS tak kalah enaknya dengan cotonya Paraikatte Makassar. Bahkan saya merasa seakan berada di salah satu pojok Paraikatte ketika menghirup air coto ala Kairo ini. “Terasa sekali kacangnya dan bumbunya, enak sekali..” ungkap Agus serumah saya. “Coto ini dibuat oleh Jumed” jelas Ketua KKS. Jumed sendiri adalah salah seorang senior KKS yang sudah berpengalamn dalam dunia masak memasak. Konon kabarnya, dia adalah keturunan pembuat coto di Makassar. Ongkos dia ke kairo saja merupakan hasil jerih payah orang tuanya yang berjualan coto di makassar. Saya bahkan sempat bincang-bincang dengan Jumed. Bincang tentang asal usul hingga resep-resep memasak, tak ketinggalan resep membuat coto. Jumed adalah mahasiswa tingkat akhir yang akan segera menyelesaikan kuliahnya di Al-Azhar. Jadi, disamping jago membuat coto, dia juga jago dalam bidang akademis.
Adapun jenis daging yang biasa dijadikan coto di sini, ternyata dapat diperoleh dengan mudah di pasar-pasar tradisional Mesir, dan harganya relative murah. Konon daging sapi itu di import dari negara Brasil. “Jadi mungkin ini yang membuat coto Jumed terasa enak” cetusku dalam hati. Saya bahkan sempat memesan semangkuk lagi, yang berisi daging campur hati dan usus. Kalau rempah coto itu sendiri, didapat melalui teman-teman yang datang berlibur dari Indonesia. “Bumbunya mudahji di dapat, karena banyak ji teman yang biasa pulang ke makassar, jadi tinggal pesanji” terang Jumed dengan logat Makassarnya. Saya sempat teringat dengan kak Ahmad sewaktu di bandara Hasanuddin, sebelum berangkat ke Jakarta, beliau sempat mengecek laos, ketumbar, jintan, dan daun salam yang diselipkan di tas saya, yang kebetulan agak sedikit longgar. Ternyata bahan-bahan itu adalah titipan buat jumed.
Ada sedikit perbedaan dalam menghidangkan coto di Kairo dan Makassar. Kalau biasanya coto dihidangkan dengan mangkok kecil khusus dan ditemani dengan lontong. Coto di kairo dihidangkan dengan mangkok yang terbuat dari plastic dan lontongnya juga di bungkus dengan plastic. Tapi bicanya soal rasa, tentu juga tak kalah dengan coto yang pernah saya makan di Makassar. Bahkan ada nilai plus makan coto di Kairo, yaitu makan bareng dengan putra daerah sulawesi sekitar 400-an orang yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Pemandangan yang sungguh luar biasa. “Belum pernah saya makan coto seramai ini” cetusku dalam hati. Bahkan seakan kita saling akrab dan mengenal dengan beberapa senior, walaupun baru bertemu.
Acara tudang sipulung ini juga tak kulewatkan untuk saling berkenalan dengan mahasiswa yang berasal dari sulawesi, khususnya dari Bone dan Makassar. Karena dari kedua kota ini, tersimpan sejuta kenangan yang begitu indah untuk dikenang.
NB; tulisan ini merupakan pengalaman pribadi salah seorang juniorku.
-Nama yang penulis gunakan, bukanlah nama asli. Tapi nama sapaan belaka.



Jelek bnget tulisanmu boncu
Oleh: agmed on Agustus 31, 2008
at 3:44 pm
Makasih, namanya aja pemulah. masa ada orang belajar langsung pinter..BTW mn wordpress mu
Oleh: syahrulhs on Agustus 31, 2008
at 3:48 pm
lumayan buat penulis pemula…………..,,,,, jenis tulisan ini apa sih …… ini Cerpen atau Puisi atau Sekalian Feature…..
Tokohnya kok Beda ?
Bravo tuk Ketua OSIS Sekolah Menulis KKS
Oleh: KeCeBong on September 1, 2008
at 11:42 pm
Itu jenis Feature.
Tokohnya kok Beda ?
Ini adalah pengalaman Juniorku
BTW Mn worpreessmu
Oleh: syahrulhs on September 2, 2008
at 12:30 am
jangan berharap tulisan pak boncu akan “berjenis”, apalagi sistematis.boncu ‘kan pengikut nietzche.nietzche itu sangat anti sistem.bagi nietzche, sistem itu hanya belenggu dan penjara kretivitas.
terus, kok masih ada orang yang menilai sebuah tulisan dengan standard-standard yang begitu kaku?!kenapa sebuah tulisan harus memiliki “jenis” atau genre?apakah dengan masuknya sebuah tulisan dalam kategori atau jenis tertentu, bisa menjadi jaminan kualitas?jawabannya, tentu tidak!
Oleh: Tsivi Livni on September 2, 2008
at 8:47 pm
saya setuju kita bebas menulis apa saja, jangan dipasung oleh system. namun kayaknya kita harus realistis melihat era skarang. kayaknya agak sulit berinteraksi sosial tanpa adanya system.singkatnya gini aja mas, orang maen bola yg bagus pake tehnik/sistem ato nga sama sekali?
Oleh: syahrulhs on September 3, 2008
at 1:04 am
The Saying of Ali Ibne Abi Talib kw
Trust ALLAH in your affair
Be first in greetings
Be humble in respecting others
Refrain from backbiting
Be cheerful to your wife
Be moderate in your living
Be respectful to your guest
Be helpful to the oppressed
Sacrifice to the needy
Be helpful in the holly war
Try to be sincere
Be kind to orphans
Donate for good cause
Be thankful to ALLAH for His blessings
Limit the lust
Be polite to the ignorance
Refrain from pride
Be symphatetic to the foreigner
Be kind to people
Be against to your egoism
Do not be a misser
Associate with good people
Be polite in your speech
Delay in taking revenge
Forgive while in power
Persist in your prayer
Think before replying
Fullfil your promise
Make haste in doing good
Visit the sick
Be patient in calamity
Be stable in your work
Ponder in the affairs
Oleh: Hasan Murtadha on Oktober 16, 2008
at 1:28 pm