Emansipasi Perempuan

31 03 2011

Dibalik kesuksesan laki-laki, terdapat dukungan perempuan yang tegar dan kuat. Ungkapan yang agaknya sangat familiar di telinga kita. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sudah saatnya mengobral ungkapan baru ‘dibalik kesuksesan perempuan, terdapat laki-laki yang kokoh’. Zaman modern yang disertai dengan terbukanya pintu kebebasan dalam berbagai hal, berusaha menghapus dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran dan tanggung jawab yang selama ini terjadi, melahirkan gerakan feminist yang hendak memperbaharui pola piker dan tingkah laku masyarakat. Zaman modern berusaha menghapus privatisasi pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan di ruang publik.

Penghapusan dikotomi antara laki-laki dan perempuan yang dikenal sebagai gerakan emansipasi, bukan hal yang baru di Negara ini. Dahulu, R.A. Kartini telah merintis perjuangan dan gerakan ini, dengan semangat yang membara dan tak pernah kendor. Beliau dikenal sebagai pahlawan emansipasi yang sangat konsisten dan tak pernah takut pada ancaman yang membelenggu saat itu. Sebelum era Kartini, perempuan senantiasa dibelenggu dan dibatasi ruang kerjanya di dalam rumah, tanpa ada kewajiban untuk berkarir dan bekerja di luar rumah. Baca entri selengkapnya »





Parpol Berideologi

28 03 2011

Wacana parpol berideologi menjadi kajian menarik untuk dibahas. Parpol yang sangat kental dengan nuansa politik dan kepentingan, perlu dipertanyakan kembali esensi filosofis ideologi yang mereka klaim. Ideologi bisa berkonotasi ganda; negati dan positif. Ideologi sebagai pegangan atau landasan dalam berparpol, menjadi rambu yang mengatur orientasi parpol ke depannya. Sekalipun dalam perjalanannya, seringkali ideologi diabaikan demi kepentingan tertentu. Ideologi bisa berupa Agama, Sosialis, Nasionalis dan Liberal. Mayoritas parpol yang berkembang Indonesia, tak jauh dari ideologi-ideologi tersebut. Wujudnya pun nampak pada asas dan pedoman yang menjadi pegangan parpol.

Wacana ideologi dalam parpol masih dianggap cukup efektif sebelum dan setelah pemilihan umum. Ideologi yang pro terhadap rakyat kecil, pro keadilan, dan pro kemajuan, pro demokrasi, seringkali menjadi nilai tawar yang diperhitungkan oleh rakyat dalam memilih parpol. Ideologi agama dan nasionalis, juga punya peranan yang sepertinya tak kalah signifikan dengan ideologi sosialis yang peduli pada rakyat kecil. Pemandangan yang menarik, karena nilai tawar ideologi yang diajukan oleh parpol, seolah menjadi doktrin dan dogma yang harus dipatuhi segenap element pengurus dan simpatisan. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada diantara pengurus parpol yang membelok (atau bahasa kasarnya, murtad) dari ideologi parpolnya. Resikonya pun terkadang harus ditanggung oleh personal dan internal parpol. Baca entri selengkapnya »





Patron dan Klien di Instansi Keagamaan

28 03 2011

Istilah patron dan klien sering kita dengar dalam kajian Antropologi budaya. Peneliti/antropolog menggunakan istilah ini, sebagai teori untuk mengurai paradigma strukturalis-fungsionalis. Patron-klien merupakan suatu bentuk relasi yang saling menguntungkan antara kedua pihak. Patron biasanya direpresentasikan sebagai orang yang lebih, dalam segala hal, dari si klien. Olehnya itu, fungsi umum patron adalah menjamin kebutuhan dan keperluan klien, sedangkan klien membantu patron mencapai targetnya dan terkadang juga untuk memperlancar usaha si patron. Kehadiran klien sangat membantu patron dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula sebaliknya, patron sangat membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagian orang, mengkorelasikan hubungan ini sebagai relasi antara bos dan anak buah. Namun, sepertinya korelasi ini sepenuhnya kurang tepat, karena istilah bos dan anak buah, seolah mengindikasikan penguasaan hak seseorang atas yang lain. Dalam patron-klien, bisa dikatakan posisi keduanya sejajar, karena didasari oleh ikatan yang saling menguntungkan, sekalipun posisi atau jabatan patron lebih tinggi dari klien. Lebih jelasnya, kita bisa lihat dari contoh berikut. Patron memberikan sesuatu seperti; modal, barang, atau jaminan keamanan kepada klien, dan klien membantu patron mengawasi atau bahkan menjatuhkan lawan/saingan politik atau ekonominya. Singkatnya, patron memberikan sesuatu yang bersifat material sedangkan klien berupa jasa. Jadi, hubungan keduanya didasari atas dasar saling membutuhkan. Baca entri selengkapnya »





Peristiwa Juni 2008, Kekerasan vis a vis Jihad?

28 03 2011

Minggu (1/6/2008) lalu menjadi saksi sejarah, sekaligus menambah koleksi peristiwa berdarah yang terjadi di tanah air. FPI melakukan penyerangan mendadak terhadap AKKBB. Tindakan penyerangan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) merupakan bukti bahwa kesadaran akan perdamaian dan toleransi di Indonesia, semakin memprihatinkan. Hal ini juga yang berpotensi memunculkan spekulasi bahwa kekerasan di Indonesia, sangat sulit untuk dibendung oleh pihak keamanan, apalagi dihilangkan.

Media lokal maupun internasional tak luput menyorot peristiwa yang kontadikti ini. Bahkan, media-media internasional tak segan menyebut peristiwa ini, sebagai imbas dari pemahaman Islam yang fundamental dan radikal. Tak ayal, ada pula yang mencap Islam sebagai agama yang suka dengan kekerasan, intoleran, dan inklusif. Kayaknya, agak sulit memang untuk mengelak animo di atas, apalagi setelah melihat langsung kejadian tersebut di beberapa media elektronik. Di dalam maupun luar negeri, puluhan media cetak dan elektronik menyorot langsung peristiwa ini. Ratusan aktivis FPI dengan seragam putih-putih dan ikat kepala yang bertuliskan ‘Allahu akbar’ serta atribut Islam lainnya, menyerang dan memukul anggota jaringan AKKBB yang sedang berkumpul di depan Monas. Diantara mereka ada yang menggunakan tangan kosong bahkan tak sedikit yang memakai bambu dan persenjataan lainnya, layaknya perang di era pra kemerdekaan. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.